bermula dari wacana dari widya, maka saya, widya, dan meli berencana untuk naik gunung ciremai. widya bertindak sebagai guide karena pernah kesana, sementara meli sangat bersemangat karena ini adalah pertama kali baginya untuk mendaki gunung dengan ketinggian diatas 3078 mdpl. alhasil, widya mengajak exaudi dan dipta untuk join.
kami berangkat dari bandung dengan bus kira-kira pukul 7 malam dan sampai di desa apuy sekitar jam 01.30 pagi. pagi itu juga kami bangun setelah tidur beberapa jam dan sarapan untuk mengisi energi sebelum mendaki. diantara banyak jalur pendakian ciremai, jalur apuy termasuk jalur yang ramah bagi pemula.
kami mulai mendaki dari gerbang rimba sekitar pukul 09.00 WIB. ada sekitar 6 pos yang kami lalui sebelum berkemah. untuk jalur apuy, jarak antara pos yang satu dengan pos yang lain cukup dekat, yakni lebih kurang satu jam dengan ritme mendaki yang santai, kecuali dari pos 4 ke pos 5 yang mungkin memakan waktu hingga 1,5 jam karena jalurnya yang cukup terjal. pos 5 ke pos 6 pun berkisar antara 1 hingga 1,5 jam perjalanan. pos 6 disebut juga pos gua walet yang biasa digunakan para pendaki untuk berkemah. jarak dari pos 6 ke puncak, jika tidak membawa tas carrier dapat ditempuh hanya dalam waktu 30 menit saja.
jalur apuy dari gerbang rimba sampai ke pos 5 adalah jalur yang asri dengan kanopi yang cukup rapat karena banyaknya pepohonan. jalurnya kadang naik kadang turun. jadi istilahnya, dijalur ini banyak "bonus"nya. kanopi yang lebat itu berhenti sampai di pos 5. setelah pos 5, pepohonan semakin sedikit dan pendek-pendek ukurannya. Namun, sejak dari pos 5, kita sudah bisa melihat edelweiss. kami mendaki di bulan juli dimana edelweiss dibagian barat jawa lagi mekar-mekarnya sehingga tampak cantik sekali ketika kami kesana. di lereng sesaat sebelum bibir kawah ciremai kita dapat menemukan rimbunan edelweiss tumbuh disana dan sangat foto-able.
ada hal yang sangat disayangkan dari ciremai ini. banyak sekali botol-botol air minum bekas berserakan disepanjang jalur pendakian yang terisi air seni. botol-botol tersebut membuat kotor lingkungan ciremai. mohon kepada teman-teman yang akan mendaki ciremai untuk membawa sampahnya turun, termasuk botol plastik.
sebuah tulisan tentang summit pertama saya, yaitu mahameru (tanggal summit, 26 mei 2013 pukul 04.30 WIB)
sebenarnya ini bermula ketika 13 teman jurusan saya akan
mendaki semeru, tiba-tiba salah satu dari 13 orang itu tiba-tiba
berhalangan dan kemudian membuka oprec supaya tiketnya jangan hangus.
kemudian, saya tanpa berpikir panjang kemudian menerima tawaran dari
seorang itu untuk menggunakan tiketnya. karena saya tidak mempunyai tas
carrier, dia meminjamkan saya. kemudian, kami semua berangkat menuju
malang.
berdiri dari kiri : bame, saya, romu (ga ikut, cuma numpang foto), ncum, regen, pandu, ochi
duduk dari kiri : aceng, bima, bagas, azharul, andrew, sapto
(Bandung, 22 mei 2013)
kereta kami harusnya berangkat dari bandung tanggal 22 mei 2013 pukul
15.30. Namun, di jalur selatan ada bagian jalur kereta api yang anjlok
dan kamipun berangkat terlambat, kira-kira jam 17.00. kami sampai di
malang tanggal 23 mei 2013 sekitar pukul 10.30 WIB karena kereta memutar
lewat jalur utara dan melanjutkan perjalanan menuju tumpang dengan
mencarter angkutan kota.
Tim tiba di stasiun malang (23 mei 2013) *)
di tumpang (23 mei 2013)
Kemudian, sekitar pukul 13.30 kami menumpang
truk bersama 13 orang yang lain (rombongan lain dari bandung yang
bertemu dikereta dan dari jakarta) menuju ranupani. sesudah masuk ke
wilayah taman nasional bromo-tengger-semeru, ternyata jalan menuju
ranupani sedang dalam pengaspalan sehingga kami berhenti kira-kira
hingga pukul 16.30 dan kemudian melanjutkan perjalanan.
harus menunggu jalan selesai di aspal (23 mei 2013)
sambil menunggu, foto-foto dulu lah ya (23 mei 2013)
ditengah jalan,
truk yang kami tumpangi mengalami slip sehingga harus didorong dengan
jeep dan kami harus turun. akhirnya, kami sampai di ranupane dan
memutuskan untuk menginap semalam.
Dorrrrroooonnngggg (23 mei 2013) *)
ranupani, pagi hari tanggal 24 mei 2013
esok harinya, tanggal 24 mei 2013, setelah bersiap-siap, mengurus perizinan, melakukan
pemanasan dan briefing, kami bertiga belas meninggalkan ranupani
kira-kira pukul 09.00. saya tidak ingat pasti berapa lama saya berjalan per pos dari pos 1 hingga pos 4 hahaha karena HP saya matikan untuk mengirit baterei.
ranupani, sebelum berangkat ke ranukumbolo (24 mei 2013)
welcome (24 mei 2013)
Dalam perjalanan dari gerbang sampai pos 1, jalan relatif bergelombang dengan beberapa tanjakan walau tak terlalu tinggi. begitu juga dari pos 1 ke pos 2 serta dari pos 2 ke pos 3. kondisi track cukup bergelombang, dengan selingan turunan dan tanjakan yang tidak terlalu tinggi. begitu meninggalkan pos 3, ada tanjakan yang cukup curam, sekitar (kira-kira) 35-40 derajat sepanjang kurang lebih 100 meter.
Tim beristirahat di pos 1 (24 mei 2013) *)
Landengan Dowo (24 mei 2013) *)
Watu rejeng (24 mei 2013)
Pos 3, sambil menatap tanjakan yang lumayan tinggi (24 mei 2013) *)
Pos 4 (24 mei 2013) *)
setelah berjalan,
saya tiba di pos 4 dimana ranukumbolo terlihat dengan sangat cantik.
saya tiba disana sekitar pukul 11.50 WIB (jadi, kurang lebih
ranupani-ranukumbolo ditempuh dalam waktu 3 jam dengan nge-joss hehehe). Namun, saya dan beberapa teman yang tiba duluan memilih untuk menunggu
teman-teman yang lain di pos 4 sambil foto-foto.
pos 4 (24 mei 2013)
pos 4 ( 24 mei 2013)
Tim di pos 4 dengan background ranukumbolo (24 mei 2013) *)
di tepi ranukumbolo (24 mei 2013)
hari itu kami tidak memaksakan diri untuk nge-joss terus ke kalimati.
kami menginap di ranukumbolo semalam. bagus sekali memang danaunya.
Namun, sangat disayangkan ada banyak tumpukan sampah. setelah mendirikan
tenda dan membereskan barang-barang, kami memasak makan siang.
malamnya, langit memang tidak terlalu cerah. teman-teman yang lain
menyalakan perapian diluar.
kompleks perkemahan ranujumbolo, tampak tanjakan cinta (24 mei 2013)
prasasti di ranukumbolo (24 mei 2013)
esok paginya, 25 mei 2013, setelah makan pagi, briefing dan pemanasan,
kami melanjutkan jalan menuju kalimati. kira-kira kami berangkat pukul
09.00 dan saya tiba di kalimati kira-kira pukul 10.45 WIB. kami kemudian
mendirikan tenda dan mencari kayu bakar. sebelum masuk ke kalimati
sebenarnya ada hutan cemara yang pohon-pohonnya sudah membusuk atau
sudah mati. beberapa
batang pohon yang kecil saya patahkan dan membawanya dan kemudian
dibakar.
Tim berfoto sebelum meninggalkan ranukumbolo (25 mei 2013) *)
setelah melewati tanjakan cinta (25 mei 2013)
oro oro ombo (25 mei 2013)
di kalimati (25 mei 2013) *)
di kalimati (lagi) (25 mei 2013)
di kalimati (lagi) (25 mei 2013) *)
sekitar jam 3 sore, kalimati mulai hujan dan angin kencang. dinginnya menusuk sekali.
tenda kami tergenang dan teman-teman yang lain kemudian membuat
perimeter untuk air hujan. hujan kira-kira berhenti pukul 17.00 dan
cuaca sangat dingin. kemudian, kami makan malam dan tidur karena jam 11
malam harus bangun untuk persiapan dan summit attack.
jam
11 malam kami semua bangun. setelah bersiap-siap, kami meninggalkan
kalimati kira-kira pukul 23.30 WIB.
Persiapan summit attack, 23.00 WIB di kalimati (25 mei 2013) *)
kami sempat beristirahat di arcopodo
kemudian melanjutkan perjalanan dan beristirahat lagi di batas vegetasi
(ada teman yang menyebut daerah itu namanya "klik", saya ga tau gimana
nulisnya hehehe). kemudian,
dihadapan kami terhampar padang pasir.
hujan yang turun
sebelumnya membuat pasir jadi lebih padat, dan tentu saja dingin. waktu
di ranupane, ada pendaki yang baru turun dan bilang kalau di padang
pasir itu "maju 3 langkah mundur 2 langkah". dibeberapa bagian trek yang
memang curam, saya merayap karena tidak pakai tongkat atau alat bantu
sejenis. sarung tangan yang dipakai seakan
tidak bisa menahan dinginnya malam itu. tangan saya serasa beku.
untunglah masih bisa merasakan yang namanya menggenggam.
putus asa mulai maelanda. kira-kira ditengah jalan, kemiringan saya
rasakan makin curam dan puncak yang semula kelihatan sekarang tidak
kelihatan. suatu saat, sempat saya melirik jam, pukul 03.00 tanggal 26 mei
2013. mungkin saya sempat ketiduran, karena saya seperti lupa
momen-momen beberapa menit terakhir. sepertinya saya dibangunkan oleh
orang yang melewati saya. syukurlah, badan yang sudah mendingin tidak
bisa diajak kompromi. harus jalan, kalau tidak, bisa hypotermia. saya
melanjutkan berjalan.
saya
sempat berhenti, dan memandang ke langit. ada bulan purnama. bayangkan,
bisa menyaksikan bulan purnama di tempat yang sangat tinggi seperti ini
benar-benar menakjubkan. terlebih ketika saya melayangkan pandangan ke
bawah dan ada lautan cahaya di tempat yang jauh (entah tumpang atau
malang). cantik sekali. badan mulai mendingin, saya melanjutkan
perjalanan dengan sesekali merayap. ada empat orang dari tim didepan saya. saya
sudah tidak kuat, dan saya paksa nge-joss saja.
saya naik
hanya dengan jaket dan kaos, kemeja flannel saya ikat dipinggang. dua
syal yang saya bawa saya masukkan kedalam kaos supaya hangat. yaaa,
karena ga bawa jaket yang banyak, ya genjot fisik, anggap saja "internal heating". jalan terus dan terus, rasanya sudah berjalan
berjam-jam tapi kok tidak sampai-sampai juga. emosi mulai naik dan tentu
saja mengumpat terus didalam hati. 4 orang didepan saya sudah sampai di mahameru
dan saya berada pada jarak sekitar 20 meter dari puncak. saya
teriak kesana, "wooooy, puncak????" dan dijawab dengan "yooooooo" serasa
semangat kembali hahaha dan akhirnya, saya menginjakkan kaki di
mahameru, pukul 04.30 WIB. 5 jam pas, sejak dari kalimati sampai
mahameru. Namun, bisa kebayangkan dinginnya puncak pada jam segitu? saya
kemudian memakai lagi kemeja flannel saya dan berbaring didekat
teman-teman yang sudah sampai duluan.
Bulan Purnama di mahameru (26 mei 2013) *)
wedus gembel semeru (26 mei 2013)
sesekali semeru
mengeluarkan gas-debu dan memang jadi objek yang bagus untuk difoto.
akhirnya matahari terbit, kedinginan mulai berkurang, dan tentu saja
kesempatan ini tidak boleh dilewatkan dan kami berfoto-foto ria. ada
yang bikin video, ada yang bikin tulisan, banyak hal kami ekspresikan
disini, termasuk saya juga.
sun rise mahameru (26 mei 2013)
sun rise mahameru (26 mei 2013)
standing above the cloud (26 mei 2013)
finally, I'm here, in mahameru, the highest point of java island (26 mei 2013)
di puncak para dewa, dalam modus siluet dengan "arc reactor" di dada :P (26 mei 2013)
how great (26 mei 2013)
13 orang berangkat, 13 orang berhasil summit. Real!!! (26 mei 2013) *)
perjalanan turun (26 mei 2013)
berusah-susah semalaman dalam melewati padang pasir ini (26 mei 2013)
vegetasi konifer, setelah turun melewati arcopodo (26 mei 2013)
potret dari kalimati setelah summit (26 mei 2013)
setelah turun, kami kembali ke kalimati, makan dan berberes kemudian menuju ranukumbolo. di ranukumbolo beberapa dari kami beristirahat dan ada yang melanjutkan perjalanan. kemudian, kami yang beristirahat melanjutkan perjalanan. kami meninggalkan ranukumbolo kira-kira pukul 15.30 WIB. setelah 3,5 jam berjalan, akhirnya pada pukul 19.00 kami tiba di ranupani. saya yang melihat sebuah warung langsung masuk ke dalam dan memesan teh hangat serta makanan. di warung itu ada spanduk yang menarik, yaitu gambar dibawah ini.
quotes dari sir henry dunant (26 mei 2013)
esok harinya, tanggal 27 mei 2013, pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB kami meninggalkan ranupani menuju tumpang. 12 teman saya yang lain pergi ke sempu dan saya memilih untuk jalan-jalan sendiri di kota malang. tanggal 29 mei kami naik kereta dan tiba tanggal 30 mei 2013 di bandung dengan selamat.
banyak pelajaran berharga yang saya petik. saya ke semeru tanpa perencanaan yang matang, apalagi dalam hal perlengkapan. untungnya saya cukup rajin olahraga sehingga fisik masih bisa menahan beban perjalanan yang berat itu. mungkin buat teman-teman yang mau naik gunung untuk pertama kali, saya sarankan untuk mempersiapkan diri dengan rajin berolahraga. lakukan persiapan matang, baik perlengkapan, fisik, maupun mental, antisipasi kemungkinan terburuk jika hujan turun. Namun, dari kesemuanya itu, saya bersyukur bisa menjejak di mahameru sebagai puncak pertama saya.
Biarpun tujuan naik gunung adalah bersenang-senang, keselamatan adalah segalanya. pulang dengan selamat harus menjadi tujuan, ada keluarga yang menunggu dirumah.
kepada yang akan mendaki semeru, tolong banget nih jangan buang sampah sembarangan ya, baik sepanjang perjalanan maupun dilokasi-lokasi camping :))
Mungkin anda pernah membaca
alkitab tentang “perumpamaan tentang talenta”. Anda bisa menemukannya di matius
25 : 14 – 30. Di sana diumpamakan ada tiga orang hamba yang di beri
masing-masing lima, dua, dan satu talenta oleh tuannya untuk dijalankan agar
didapatkan laba. Kemudian, yang menerima lima dan dua talenta itu menjalankan
dan mendapatkan laba. Namun, yang menerima satu talenta tidak menjalankannya
dan akhirnya ia dilempar. Saya hanya ingin meninjau si penerima satu talenta
tersebut. Semoga bermanfaat.
Sebelum memulai, saya ingin mulai
dengan talenta itu sendiri. Apa gerangan talenta? Di kutip dari kamus alkitab,
talenta adalah ukuran timbangan sebesar 3000 syikal = kurang lebih 34 kilogram
. Dalam perjanjian baru ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu
6000 dinar. Dalam hal ini, saya akan mengambil definisi yang kedua karena
perumpamaan tentang talenta memang tertulis di perjanjian baru. Di perjanjian baru,
dinar merupakan satuan uang yang dipakai untuk menggaji seorang upahan perhari
(matius 20 :2). Mari kita berhitung. jika satu hari seorang upahan digaji satu
dinar dan satu talenta bernilai sama dengan 6000 dinar, diperlukan 6000 hari
bekerja sebagai upahan untuk mengumpulkan satu talenta (jika uang tersebut
tidak digunakan). 6000 hari = 16,44 tahun sehingga diperlukan waktu selama 16
tahun bekerja sebagai upahan setiap hari tanpa henti untuk mengumpulkan satu
talenta. Jadi, sangat terlihat bahwasanya satu talenta itu adalah uang yang
sangat banyak. Jika satu talenta sudah sangat banyak, tentunya 2 talenta,
apalagi 5 talenta lebih banyak lagi, bukan?
Didalam alkitab KJV, kata yang
dipakai untuk menyebut talenta pada perikop diatas adalah “talent”, yang
berarti bakat. Sebenarnya, penggunaan kata “talent” disini sedikit membelokkan
makna sebenarnya dari talenta yang dimaksudkan dalam perikop diatas. Namun,
kita bisa mengambil sebuah implikasi tak langsung bahwa pada dasarnya baik
bakat maupun uang adalah berkat Tuhan. Jadi, kita bisa sedikit menyimpulkan
bahwasanya secara umum, talenta yang dimaksudkan didalam perikop diatas adalah
berkat Tuhan, apapun itu.
Pada dasarnya Tuhan bukannya
kurang baik dalam memberkati anak-anak-Nya. Bukankah satu talenta adalah uang
(berkat) yang sangat banyak? Dapatkah kita menghitung semua berkat yang pernah
Tuhan berikan? Faktanya, tidak mungkin. Pernahkah kita merasa bahwa hidup kita
seperti hidup yang tidak diberkati? Cobalah hitung, atau bayangkan apa yang
sudah Tuhan perbuat sejak anda lahir sampai sebagaimana anda sekarang. IA tidak
pernah tidak bermaksud baik kepada anak-anak-Nya. Bukankah tidak ada ayah yang
memberikan batu jika anaknya meminta roti? Namun, terkadang kita sering berprasangka
buruk atas apa yang Tuhan izinkan terjadi didalam hidup kita karena kita
menganggap bahwa hal tersebut adalah tidak baik menurut kita. Namun, Tuhan
tetap baik. IA tidak pernah berubah dan selamanya IA baik.
banyak orang sering berprasangka
kepada Tuhan bahwasanya mereka seperti ditinggalkan. Hidup mereka manderita dan
kemudian menyalahkan diri sendiri atau bahkan menyalahkan Tuhan. Namun,
bukankah semua orang pasti menerima berkat Tuhan sesuai kemampuannya? Apakah kita
tidak menyadari walau hanya “satu talenta” saja diberikan pada kita, itu adalah
jumlah yang sangat banyak? Sepertinya manusia yang keliru dalam menafsirkan
kelimpahan yang dijanjikan kepadanya. Apakah kelimpahan itu? Apakah hidup enak?
Kaya raya? Bebas penyakit? Atau kita memperoleh kelimpahan didalam Tuhan saat
kita berada dalam masalah atau kesesakan?
Secara logika, bukankah akan
lebih sulit mengatur yang lebih banyak dibanding yang sedikit? Bukankah akan
lebih sulit mengatur lima talenta dibanding satu talenta? Haruskah kita terus
bersungut-sungut sementara Tuhan sudah memberikan begitu banyak kemudahan? Bangsa
Israel merupakan contoh nyata bagaimana begitu banyak kemudahan yang mereka
dapat dalam perjalanan mereka dari tanah mesir menuju kanaan, tetapi masih
bersungut-sungut. Sungut-sungut kita justru kelak menguji kesabaran Tuhan atas
betapa keras kepalanya kita.
Sebagai anak Tuhan, mari kita
menanggapi berkat Tuhan dengan cara yang dikehendaki-Nya. Terimalah segala
keadaan dengan penuh ucapan syukur. ketika kita mendapat berkat, baik bakat,
uang, nama baik, nama besar, posisi, jabatan, dan sebagainya hendaknya kita
bersyukur. Syukur itu hendaknya diikuti dengan tanggung jawab; tanggung jawab
dalam melakukan kasih demi hormat dan kemuliaan Nama-Nya serta menjadi
kesaksian bagi sesama.
Pernahkah anda mendengar ada
seseorang yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi orang yang dicintainya?
Ambil contoh saja, sesorang pria yang sedang ingin memikat hati seorang wanita
mungkin akan mengatakan bahwa ia bersedia mati untuk wanita itu. Terkesan baik
sekali. Namun, saya punya penilaian yang berbeda tentang itu jika dikaitkan
dengan iman Kristen.
Barangkali anda pernah membaca
ini, yaitu sesuatu yang ditulis rasul paulus, “andaikata Yesus tak bangkit,
sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia juga kepercayaan kamu”.Karena begitu besar kasih-Nya atas dunia ini,
Yesus rela mati untuk menerima ganjaran yang harus diterima manusia karena
dosa. Yesus memang mati, tetapi tidak lama karena setelah tiga hari sejak
kematiannya Ia bangkit. Ia bangkit sebagai pembuktian bahwa kuasa maut tak bisa
mengikat-Nya.
Penting kita mengerti bahwa Yesus
memang mati. Namun, Ia hidup. Ia mati, dan Ia pun hidup untuk kita juga.
Andaikata Yesus tak hidup, percuma saja iman kita kepada-Nya, bukan? Sesuai
hakikat-Nya yang adalah kasih, Yesus hidup pun karena kasih – kasih-Nya kepada
kita semua. Jika ia tak bangkit, percuma saja kita beriman kepada-Nya, bukan?
Jika anda mengatakan bahwa anda
mau mati demi orang yang anda kasihi, sebaiknya anda memikirkannya dua kali.
Memang benar bahwa tidak ada kasih yang lebih besar dibanding orang yang mau
mati bagi sahabatnya. Namun, harus dipahami bahwa hal itu merujuk pada Yesus
yang rela mati bagi umat-Nya yang adalah sahabat-Nya. Andaikata anda mati demi
orang yang anda kasihi, hal itu hanya membuat luka yang dalam di hati orang
terkasih anda. Anda tidak dapat bangkit lagi, bukan?
Sebaiknya anda tidak perlu
buru-buru “mati” demi orang yang anda kasihi. Justru, disaat anda sedang
menderita, anda harus tetap berusaha untuk “hidup” demi orang-orang yang anda
kasihi. Tidak perlu rasanya “menggombal” dengan hal-hal yang tidak logis.
Seharusnya anda berkata kepada orang yang anda kasihi, “untukmu aku akan
berusaha hidup sampai waktunya aku dipanggil oleh-Nya”. Kehadiran anda begitu
berharga bagi orang yang anda kasihi dan yang mengasihi anda.
Bukti kasih Yesus adalah Ia rela
mati. Namun, bukti kasih yang kemudian ditunjukkan-Nya adalah Ia hidup. Jadi,
untuk orang yang anda kasihi, apapun penderitaan yang anda jalani sekarang,
entah penyakit atau tekanan hidup yang berat, berusahalah agar tetap hidup demi
orang anda kasihi, kecuali jika memang sudah waktunya anda kembali pada-Nya.
Bagi anda yang sedang putus
cinta, jangan pernah berpikir untuk bunuh diri. Tahukah anda bahwa diluar sana
ada seseorang yang menanti untuk menemukan anda dan ditemukan oleh anda?
Yakinlah bahwa Tuhan menyediakan yang lebih baik bagi anda. Jadi, tetaplah
hidup untuk mereka, sekalipun mereka belum anda lihat.
“UNTUKMU YANG TERKASIH, AKU AKAN
TERUS HIDUP UNTUKMU SAMPAI PADA SAATNYA AKU DI PANGGIL OLEH-NYA”
Kita semua yang telah lama hidup
di Indonesia pastilah tahu akan kisah malin kundang, si anak durhaka. Malin
kundang yang pergi merantau dan pulang ke kampungnya dalam keadaan sukses,
menyangkal bahwa seorang nenek tua yang datang kepadanya adalah ibunya sehingga
ibunya mengutuknya sehingga malin kundang berubah menjadi batu.
Pada umumnya kisah ini
diceritakan kepada anak-anak kecil sebagai peringatan dan nasihat bagi mereka
agar tidak durhaka terhadap orang tua. Namun, adakah nilai yang bisa dipetik
oleh orang dewasa, bahkan orang yang sudah lanjut usia sekalipun dari kisah
ini? Saya ingin memberi pendapat.
Memang pada dasarnya malin
kundang menyangkal keberadaan ibunya karena malu pada istrinya bahwasanya ia yang
sudah sukses ternyata mempunyai ibu yang penampilannya tidak seperti orang
berada. Penting bagi kita untuk sadar tentang hal sepele bahwasanya malin
kundang merantau sangat jauh, sementara pada zaman itu tidak ada wesel pos,
bank, apalagi ATM. Jadi, ibunya tetap hidup miskin karena tidak mendapat
“kiriman” dari malin kundang sehingga penampilannya pun demikian. Bagi anda
yang sudah sukses, janganlah pernah lupa untuk peduli kepada orang tua anda,
setidaknya peliharalah kesejahteraan mereka dimasa tua mereka dengan harta yang
anda punya karena memang demikian kewajiban seorang anak kepada orang tua.
Kepulangan malin kundang kembali
ke kampung halamannya merupakan sebuah indikasi positif bahwasanya ia tidak
lupa akan kampung halaman. Bagi anda para perantau, apakah anda masih ingat
akan kampung halaman anda diperantauan? Ataukah anda sudah lupa dimana anda
biasa bermain, bercanda, dan bergurau bersama teman-teman anda? Bagi anda yang
mungkin kampung halamannya masih merupakan daerah tertinggal, alangkah baiknya
jika anda sudah sukses, entah meraih gelar akademik atau sukses secara
finansial, tidak ada salahnya untuk kembali ke daerah anda dan membangun daerah
anda dengan kemampuan yang anda punya.
Sebenarnya tanggapan ibu malin
kundang akan perlakuan anaknya tidak patut dicontoh. Untuk anda para orang tua,
jika anda mengaku mencintai anak anda, pernahkah anda berikhtiar untuk mengutuk
anak anda? Tentu saja tidak. Orang tua harusnya mencintai anak mereka apapun
dan bagaimanapun sikap dan keadaan anak mereka. Cinta orang tua akan anak
haruslah menjadi cinta sampai akhir hayat. Adalah suatu hal yang tidak patut
jika orang tua mengutuki anaknya. Orang tua harusnya memberkati dan mendoakan
anak-anak mereka agar kepada anak-anak mereka dianugerahkan segala sesuatu yang
baik, bukannya mengutuk.
Penyesalan selalu datang
kemudian. Penyesalan ibu malin kundang ketika tahu anaknya telah berubah
menjadi batu adalah tanda bahwa seharusnya dalam mengambil keputusan kita harus
menggunakan akal sehat sekalipun berada ditengah sakit hati atau kekecewaan.
Mengampuni kesalahan orang adalah
baik. Mari kita lebih melihat hal-hal yang baik dan berpikir lebih jernih
sehingga kita tidak jatuh kedalam keputusan yang kelak akan kita sesali.