Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Thursday, April 25, 2019

NO SPOIL | setelah nonton avengers : endgame


LUAR BIASA!

ya, itu adalah kalimat yang setidaknya bisa saya lontarkan untuk film avengers : endgame yang memang spektakuler itu. 3 jam nonton film ini memang worth banget, bahkan saya berhasil memberi sugesti pada diri sendiri untuk tidak merasa ingin ke toilet selama 3 jam itu hahaha. Film ini memang luar biasa dan mereka yang menonton harus mengakui itu (bahkan fans DC sekalipun wkwk maaf ya).

10 tahun lebih sudah berlalu sejak pertama kali MCU merilis iron man (2008) di bulan april tahun itu dan sekarang endgame rilis ke publik, puncak dari cerita superhero mungkin bisa dibilang, progressive revealation ini. "I am iron man. you think you're the only superhero in the world? Mr. Stark, you've become part of a bigger universe. you just don't know it yet" begitulah pertama kali nick fury berbicara dengan tony stark soal avengers innitiative. sekarang, kita berada di akhir permainan; end game yang sesungguhnya dari satu fasa MCU ini.

dari sisi trailer, memang ada beberapa bagian yang fake dan tidak ada di dalam film. Beberapa bagian trailer ada yang sengaja diedit dan sedikit berbeda dari film sebenarnya. Namun, semua trailer resmi yang beredar di internet menyiratkan sesuatu yang penting soal film ini dan dapat ditemukan ketika kita sudah menonton endgame dan tentu saja dengan sedikit flashback dengan film MCU yang lain yang sudah dirilis 10 tahun kebelakang. 

memang film ini luar biasa dan saya menikmatinya. Namun, secara pribadi saya cukup sedih dengan kenyataan yang terjadi di film avengers : endgame ini. ya walau sempat di ejek (tak serius) oleh teman, "yaelah itu kan cuma film". ya memang itu cuma film, tetapi ini juga soal memori yang melekat ketika menonton MCU selama 10 tahun kebelakang. Setelah endgame, untuk selanjutnya para fans akan memasuki babak baru dari MCU itu sendiri dan dengan hasil endgame yang demikian, kita harus move on dari memori itu. ah, saya belum pernah sebaper ini dalam menonton film wkwkwk

teman-teman akan mengerti dengan kata "move on" yang saya sebut diatas ketika menonton endgame. jadi, segeralah ke bioskop dan nonton. selamat menonton guys

"I keep telling everybody to move on. some do, but not us" ~ steve rogers, endgame trailer

yeah, maybe another fans will move on after "endgame", but not me.

Saturday, November 3, 2018

konser Gun N' Roses? ah nope

Gun N' Roses akan datang dan konser di indonesia dan banyak orang merasa excited dengan konser tersebut. saya tertarik? entahlah, sepertinya tidak. Gun N' Roses merupakan salah satu band yang lagu-lagunya sering saya dengar waktu kecil karena orang-orang dirumah sering memutarnya, entah via radio ataupun kaset yang mereka beli. yah, sebenarnya sayang kalau konser mereka ini dilewati begitu saja mengingat mereka adalah band bagus dan saya sering mendengar lagu-lagu mereka sejak kecil. Namun, saya sudah kehilangan gairah untuk nonton konser band-band dari luar negeri.

masih belum move on? mungkin ya. sejak wafatnya chester bennington, keinginan untuk nonton konser manapun rasanya sirna begitu saja. tahun 2017 silam, sebenarnya saya sudah cukup mengumpulkan sumber daya untuk datang ke konser linkin park di jepang bertajuk one more light world tour. tiket sudah dicari-cari, penginapan, akomodasi, dan mencari teman-teman yang kuliah disana. Namun, apa daya, konser itu batal selamanya dan yang lebih jelas tanpa chester, serasa Linkin Park sudah tak sama lagi. Tahun ini mike shinoda melakukan tour ke singapura, tetapi tidak ada rasa excited sedikitpun. 

yang saya bisa ingat hanyalah penyesalan ketika 2011 LP datang ke Indonesia dan saya tidak bisa hadir disana. tahun lalu, penyesalan itu teringat lagi dan lebih berat. sekarang, gun n roses datang ke Indonesia dan saya jadi teringat chester saat sedang streaming youtube dan ada video chester mengcover lagu Gun N' Roses yang berjudul paradise city diiringi oleh slash sendiri. chester menyanyikannya dengan sangat baik, bahkan, IMHO, lebih baik dari versi originalnya hehe *maaf fans GnR*

ya begitulah. semua orang punya childhood hero nya masing-masing. selamat buat fans GnR diseluruh indonesia karena didatangi band favoritnya. selamat menikmati konsernya untuk para fans GnR diseluruh Indonesia. have fun guys. sing it loud when they play "paradise city". I'll love it :)

Sunday, July 23, 2017

pasca chester bennington wafat

it's start with one thing...

sudah tiga hari sejak meninggalnya chester bennington. rasanya gw masih sedih aja, mengingat chaz adalah idola gue sejak gw masih sekolah dasar hingga sekarang. lagu-lagu linkin park masih gw dengerin sampai sekarang, dari album pertama sampai album terakhir. Namun, rasanya sudah tak sama lagi, energi yang gw rasakan ketika mendengar lagunya linkin park berubah menjadi sebuah kesedihan tatkala mendengar suaranya chaz. LP memang adalah definisi dari masa remaja gw dan banyak remaja lain diseluruh dunia. meninggalnya chaz begitu menyedihkannya. gw ga percaya idola gw bisa bunuh diri seperti demikian.

all I know...

jumat pagi, begitu gw bangun, gw langsung check line karena banyaknya chat. ada chat dari temen gw yang bilang, "bang, chester bennington wafat". gw langsung kaget juga shock. seakan tak percaya, gw langsung buka facebook dan ada kiriman di wall gw dari teman yang lagi kerja di jepang, "bang chester bang :'(", begitulah ia menulis. akhirnya gw lihat timeline kalau "chester bennington committed a suicide". postingan di grup Linkin Park Fans Indonesia pun sudah ramai. gw shock, terdiam, lalu bersandar di tembok kosan, dan ga nyangka air mata gw tumpah. rasanya kok gw cupu banget, tapi saat itu rasanya pedih sekali. setelah sekian tahun, akhirnya air mata gw tumpah karena sedih. my childhood hero telah pergi untuk selamanya.

It's so unreal...

but it's real. chester bennington bunuh diri yang disinyalir karena depresi. tidak ada berita, tidak ada tanda-tanda, tidak ada pesan terakhir, bahkan tidak ada wasiat. yang bisa gw lihat hanyalah sebuah foto kepalanya dari samping dan mata terbuka dengan bekas jeratan dileher. gw sedih luar biasa. bagian dari massa remaja gw pergi untuk selamanya dengan cara seperti itu. hari itu gw pergi ke kantor dengan stelan hitam, muka sedih, dan gw serasa ga mau makan apapun. mood gw jelek sekali saat itu.

I've become so numb...

yang gw rasakan tidak hanya sedih, tetapi juga penyesalan yang teramat sangat. linkin park dua kali datang ke Indonesia dan gw ga nonton mereka live sekalipun. kedatangan mereka pertama gw masih di merauke. jauh sekali dari jakarta. kedatangan kedua, konsernya di hari rabu dan gw ada kuis dan kuliah. pada saat kedatangan yang kedua, gw ga nonton dan gw galau setengah mati. gw sangat menyesal ga ikut terlebih waktu itu ada teman yang nawarin tiket kelas festival seharga 800K karena dia ga jadi nonton. sekarang gw dah kerja dan udah nabung untuk one more light world tour (kalau asia nanti dijepang). semua persiapan gw buyar begitu saja. LP takkan mungkin sama lagi tanpa chester bennington. chester bennington dan mike shinoda adalah dua kombinasi dari jiwa musiknya linkin park. 

I can't hold on...

gw tiba-tiba marah dan emosi melihat komen-komen diyoutube, dimana banyak haters membully linkin park karena mereka shitposting di akun youtubenya linkin park karena linkin park merubah genre secara drastis di album one more light. ada yang ngaku fans pula. fans macam apa itu? lu kira lu bisa buat musik kayak yang mereka buat? fans macam apa yang berubah jadi haters hanya karena musiknya LP berubah? bully skala masif memang ga berdampak pada LP, terkhususnya chester? mikir dong.

sometimes solution aren't so simple...

sekarang serba salah. denger lagunya LP bawaannya sedih, tapi kalau ga dengerin barang beberapa lagu sehari, rasanya kayaka ada yang kurang dilakukan dihari itu. gw dah ga bisa beranjak ke yang lain. 

sometimes good bye is the only way...

gw jadi pengen tahu apa yang mike shinoda cs akan lakukan dengan wafatnya chaz. mereka kehilangan teman yang mana sudah 17 tahun eksis bersama. belum lagi duka yang dialami talinda dan anak-anak chaz. wafatnya chaz memang segitu menghebohkannya dikarenakan nama besar yang LP miliki.

so, now you're gone...

why chaz? why? why you did this to your family? your bandmate? your fans? do you come after chris cornell? how about us? why you count what you've lost instead of what you have? you still have us. you fans who loyal to you more than decade. you still have us, your fans who love Linkin Park as who they are, your fans who love you as who you are. why chaz? you help another with their life but you didn't choose to live your life. what's a matter with you, chaz? I am wondering if there's a person in this world who understand what things lies behind your mind.

for my pride and my promise...

I think sometimes friendship wins over everything. but, I won't take his path. as my friends never let me down, I won't let them down, either. I want to live my life as grace. dear all soldiers, remember all the sadness and frustation, and let it go.  we will always remember him

who cares if one more light goes out? well, I do


Monday, February 20, 2017

tentang hits terbaru Linkin Park 2017 : "heavy"

sudah tiga tahun lamanya sejak band favorit saya, linkin park, mengeluarkan albumnya yang terakhir. Linkin park ditahun 2017 ini akan mengeluarkan album yang berjudul "one more light". saya memang penasaran warna apa dan materi seperti apa yang akan Linkin Park bawa dalam album barunya. baru satu lagu yang dirilis di youtube, yakni lagu yang berjudul "heavy" yang dibawakan linkin park bersama dengan kiiara.

Seorang teman facebook saya pernah berkomentar, "lebih seru melihat komentar di youtube dibanding melihat videonya". ya memang benar. banyak fans linkin park yang kecewa dengan materi yang dibawakan dalam lagu "heavy". linkin park seperti kehilangan unsur rock nya. ada yang menuding linkin park membuat lagu pop, ada yang membandingkan lagu "heavy" dengan lagu linkin park sebelumnya, bahkan membandingkan dengan lagu pada album pertama, hybrid theory. memang pada dasarnya lagu "heavy" itu lagu yang bertempo pelan dan liriknya seperti menyiratkan suatu kegalauan atau kekalutan. Namun, ini bukan pertama kali linkin park membuat lagu bertempo pelan, bukan? kita masih bisa mengingat lagu  "my december" atau "in between" yang tak memiliki unsur gitar sama sekali.

Terlalu dini untuk menilai album "one more light" hanya dengan sebuah single yang baru rilis. apakah Linkin Park memang meninggalkan aliran cadas yang selama ini menjadi ciri khasnya atau tidak, saya pun tidak mengetahuinya dengan pasti. Namun, saya pikir saya menyukai lagu "heavy" dan secara umum saya menyukai semua lagu linkin park apapun materi yang mereka bawakan. Lirik lagu linkin park memang tidak menggunakan bahasa yang lebay, tetapi dapat dimengerti. lirik yang mereka bawa seakan bertambah usia seiring dengan bertambahnya usia para fansnya yang semula masih remaja dan sekarang menjadi dewasa. 

Linkin park memang berbeda sekarang ini. suara chester bennington sudah tak segarang awal tahun 2000 dan kiblat musik dunia pun banyak berubah. Namun, kalau saya lihat, warna lirik lagu-lagu linkin park tidak banyak berubah. biarlah, kawan. semua orang pasti menjadi tua. saya hanya bisa berterima kasih untuk masa remaja yang ngerock bersama Linkin Park. mereka termasuk golongan yang telah mewarnai masa remaja saya hahaha *cem betul*

Fans sejati tidak akan meninggalkan idolanya hanya karena idolanya berubah genre. fans liverpool saja tetap setia walau tim kesayangannya lama tak juara hehehe *peace ya*

Linkin Park - heavy lyric

"I know I'm not the center of the universe
But you keep spinning round me just the same
I know I'm not the center of the universe
But you keep spinning round me just the same
And I drive myself crazy
Thinking everything's about me
I'm holding on
Why is everything so heavy
Holding on
So much more than I can carry
I keep dragging around what's bringing me down
If I just let go, I'd be set free
Holding on
Why is everything so heavy"

Tuesday, August 11, 2015

when you put your heart for something

Kembali kepada cerita mengerjakan tugas akhir. saya bergumul dengan tugas akhir memang cukup lama, yaitu sejak pertengahan 2013, dimana sempat mengganti topik tugas akhir dan akhirnya mengerjakan topik baru selama setahun hingga awal 2015 sehingga akhirnya saya bisa lulus, dengan segala dinamika permasalahan yang selalu datang ketika masalah yang satu sudah dibereskan. Sempat terpikir untuk mengganti topik dipertengahan 2014, tetapi keras kepala saya selalu meminta agar saya harus menyelesaikan apa yang saya mulai. bukankah goal itu harus dicapai? ya, harus dicapai, walau dengan konsekuensi harus lulus lama dengan permasalahan-permasalahan yang sebenarnya bukan diakibatkan oleh diri sendiri, tetapi kendala teknis (peralatan).

Dalam kondisi susah hati disaat ini, akhirnya pertanyaan muncul didalam diri sendiri. What I want? What I desire? What I prepared to do? Segala pertanyaan berkecamuk dikepala sampai suatu saat saya berbaring di bangku didepan sekre dan menerima sebuah email yang tidak pernah saya sangka saya akan menerimanya.





Ketika membacanya, saya terkejut bukan main. Tiba-tiba mood saya yang jelek berganti senang. saya tidak menyangka bahwa apa yang saya kerjakan selama ini bisa menghasilkan sesuatu seperti demikian. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan untuk ini. Apa yang saya kerjakan tidak hanya membuat saya lulus, tetapi juga bisa dibagikan kepada orang banyak melalui upcoming event itu. Oh My God. Pelipur lara datang disaat yang sangat tepat. Waktu Tuhan selalu tepat. IA memberi penghiburan untuk anak-Nya yang bersusah. Saya sangat bersyukur untuk ini.

Mungkin saya tidak akan mendapat kesempatan baik seperti ini andaikata saya tidak konsisten dan memilih untuk mengganti topik. Keras kepala saya untuk tetap berjalan di jalan ini ternyata berbuah lebih dari apa yang saya bayangkan. Mungkin inilah yang namanya passionate. ketika kita menaruh segenap hati kita untuk mengerjakan sesuatu, cepat atau lambat niscaya membuahkan hasil yang baik. Ini adalah pelajaran yang penting. Usaha dan dedikasi akan menghasilkan hasil yang manis dan/atau memberikan pelajaran berharga apapun itu. ketika kita mengerjakan sesuatu dengan hati, ketika kita melakukan kebaikan untuk orang lain dengan segenap hati, apapun yang terjadi kita akan mendapatkan yang terbaik.

Semoga bermanfaat.

Friday, July 24, 2015

Kapan wisuda?

"Kapan wisuda?" atau "kapan lulus?" umumnya adalah pertanyaan yang mungkin menyakitkan bagi mahasiswa yang belum juga lulus. Sebenarnya yang saya pikirkan tentang ini adalah, apakah dalam konteks etiket kita boleh bertanya seperti itu pada seseorang?

Saya pikir rasanya tidak sopan jika kita bertanya hal seperti itu jika orang yang kita tujukan pertanyaan demikian tidak terlalu kita kenal dengan baik. memang pertanyaan "kapan wisuda?" sering jadi bahan canda tawa oleh sesama sahabat karib bagi teman mereka yang belum lulus untuk menghangatkan suasana saja. Namun, kalau kita bertanya pada orang yang baru kenal atau orang yang tidak terlalu kita kenal, hal itu akan terasa bagi orang itu seperti kita sedang mencoba mencabut giginya hahaha. Kadang kita mungkin tidak tahu kalau kita sedang berhadapan dengan orang yang bergumul berat soal studinya, entah karena kuliah atau skripsi yang tak kunjung beres, masalah keluarga, kesulitan keuangan, dan lain sebagainya. Ketidaktahuan kita yang diikuti dengan cepatnya kita berkata-kata akan sangat menyakiti orang lain. Jadi, sebaiknya pertanyaan demikian harus dilontarkan dengan hati-hati dengan melihat siapa orang yang sedang kita tanya.

Sebenarnya ada satu pertanyaan yang bisa menggantikan "kapan wisuda?" atau "kapan lulus?" untuk diberikan pada seseorang yang ingin kita ketahui apakah dia sudah lulus atau belum tanpa harus secara frontal menanyakannya, yaitu "apa masih di bandung?" jika yang bersangkutan berkuliah dibandung. Namun, intinya sama saja bahwa pertanyaan itu ditujukan untuk menanyakan apakah seseorang sudah lulus atau tidak. Jika seseorang berkuliah dibandung dan ternyata dia masih dibandung, ada kemungkinan dia belum lulus atau dia sudah lulus, tetapi belum kerja.

Ketika sedang dalam menyelesaikan tugas akhir, sering saya mendapat pertanyaan-pertanyaan, seperti "kapan wisuda?", "kapan lulus?", atau "apakah masih di Bandung?", bahkan ketiga pertanyaan itu pernah ditanyakan oleh orang yang sama. mungkin kalau pertanyaan pertama dan kedua bisa dijawab dengan, "di waktu yang tepat". Namun, pertanyaan ketiga ini sebenarnya sedikit terkesan lebih menyakitkan karena sisipan pertanyaan "kapan lulus?" itu tersirat didalamnya. bagaimana menjawabnya? jawab saja, "iya, masih dibandung" sambil menggerutu, "dasar ni orang, jago betul dia bikin pesan tersembunyi" hahahaha.

Diatas segalanya, kita perlu punya empati bagi mereka yang belum lulus karena mengalami suatu kendala yang nyatanya kita tidak bisa membantunya untuk menyelesaikannya. sebaiknya hindarilah bertanya, "kapan lulus?" kepada orang yang tidak terlalu kita kenal atau yang baru saja dikenal sebagai bentuk empati.

PTN ternama yang meng-Indonesia timur?



Sebenarnya ini hanya curhatan saja hehehe tidak harus dianggap serius.

Beberapa bulan yang lalu saya diwisuda dari ITB sebagai sarjana teknik pertambangan. Momen seperti itu memang momen yang sangat membanggakan (setidaknya bagi orang tua) karena saya yang telah berhasil menyelesaikan studi. Hanya saja, dengan mengesampingkan setiap kenakalan yang pernah saya lakukan dikampus (hehehe), ada satu hal yang sampai sekarang menjadi keresahan saya, yaitu tentang kiprah kami, anak-anak Indonesia timur yang berkuliah diuniversitas ternama di Indonesia, entah itu ITB, UI, UGM, dsb.

Saya sering memperhatikan trend anak-anak Indonesia timur yang masuk program S1 di ITB dan beberapa kampus ternama lain, dimana trend ini ada dalam hal jumlah. Ternyata memang, jumlah anak-anak Indonesia timur yang berkuliah di kampus ternama di Indonesia memiliki persentasi yang sangat kecil terhadap total mahasiswa S1 yang berkuliah dikampus tersebut. Apa yang salah dengan pendidikan dasar dan menengah disana (timur)? Apakah kami yang dari Indonesia timur masih kalah bersaing dengan siswa-siswi yang ada dipulau jawa (atau Indonesia barat pada umumnya) untuk berebut kursi di universitas ternama dinegeri ini?

Mungkin penerimaan mahasiswa baru lewat jalur undangan atau program afirmasi merupakan suatu terobosan yang baik untuk menjaring siswa-siswi terbaik untuk kuliah dikampus ternama karena membuka kesempatan bagi seluruh siswa-siswi diseluruh Indonesia untuk beradu nilai rapor. Namun, statistik tetap berbicara. Ada yang diterima, tetapi tidak bisa bertahan. ada yang mampu bertahan, tetapi tidak lulus tepat waktu. Ada yang mampu bertahan dan lulus tepat waktu, tetapi jumlahnya sangat sedikit. kalau saya perhatikan, jumlah mahasiswa S1 yang diterima di ITB selama satu dekade terakhir pun jumlahnya bahkan jauh lebih sedikit dibanding jumlah satu angkatan yang diterima di ITB. 10 tahun berlalu dan dikampus saya sendiri, jumlah mahasiswa asal Indonesia timur (contohnya papua) hanya dapat dihitung jari saja.

Apakah anak-anak Indonesia timur ini masih terisolasi? Secara geografis tidak, tetapi transportasi sebenarnya sudah lancar. Ada pesawat dan kapal laut. Secara informasi sih relatif, sebab diperkotaan pun sudah dijangkau internet. Kalau kemampuan ekonomi, beasiswa pun sebenarnya ada. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? I have no idea.

Teman-teman angkatan saya semasa SMA pun sebenarnya banyak yang pintar (bahkan lebih pintar dari saya, ya walau saya gak bego-bego amat sih), tetapi hanya saya yang termasuk “beruntung” bisa menikmati pendidikan program sarjana dikampus ternama (universitas negeri) seperti ITB, itupun setelah menganggur setahun untuk belajar lagi dan mempelajari peta persaingan dipulau jawa (saya diterima di ITB lewat SNMPTN tertulis, sebab tahun 2008 dan 2009 belum ada penerimaan lewat jalur undangan).

Lalu, apakah universitas-universitas ternama ini kurang meng-indonesia timur? Tidak juga, soalnya toh ada juga siswa-siswi asal Indonesia timur yang diterima, sekalipun jumlahnya sedikit. Secara umum, kalau sedikit sekali anak-anak Indonesia timur yang mendapatkan pendidikan yang berkualitas (atau seminimal-minimalnya menamatkan jenjang S1), lalu siapa yang akan membangun daerah mereka? Siapa yang kelak duduk sebagai pemangku kebijakan disana, terutama di era otonomi khusus seperti ini? I have no idea.

Jika kita membelah Indonesia menjadi dua bagian, yaitu barat dan timur, mungkin daerah Sulawesi (mewakili bagian timur) cukup besar dalam menyumbang putra-putri terbaik mereka untuk masuk ke kampus-kampus terbaik di Indonesia, bahkan mampu lulus dengan baik, tepat waktu, bahkan cumlaude. Ironisnya adalah, semakin ketimur, semakin sepi. Lalu, kira-kira bagaimana putra-putri terbaik dari Indonesia timur dapat dijaring dalam jumlah besar dengan sistem yang ada sekarang? I have no idea.

Entah orang akan menyalahkan pemerintah, ketimpangan pembangunan antara barat dan timur, ketimpangan pendidikan antara barat dan timur, ketimpangan fasilitas dan sarana prasarana antara barat dan timur, tetapi yang pasti, siswa-siswi yang berasal dari Indonesia timur harus berusaha jauh lebih keras untuk bisa masuk berkuliah dikampus ternama melebihi usaha siswa-siswi di Indonesia barat. Dari posisi geografis pun itu sudah dapat terlihat, belum lagi jika kita melihat sendiri bagaimana kondisi anak-anak disana (ditimur).

Sekarang sudah era otonomi khusus. Anak-anak daerah disarankan untuk berusaha “lebih keras” untuk bisa masuk PTN ternama supaya kelak mereka bisa mengenyam pendidikan yang baik kemudian lulus dan kembali ke daerah untuk membangun daerahnya. Kalau memang anak-anak ini harus “berusaha jauh lebih keras”, sekarang, apakah dengan kebijakan yang ada sekarang, para elit perguruan tinggi maupun dikementerian pendidikan sudah merasa cukup dengan semua itu? Jika memang sudah cukup, tetapi mengapa masih sedikit yang diterima di PTN ternama? Serasa seperti loop of evil.

Setelah pusing berpikir penyebabnya akhirnya saya memilih untuk positive thinking. Mereka yang tidak masuk PTN ternama mungkin diawal sudah tidak berminat dan memilih untuk berkuliah di daerah masing-masing, entah karena dekat dengan orang tua (rumah), sudah punya usaha sendiri, sudah menjadi pegawai magang di instansi pemerintah, dan lain sebagainya. Namun, jika memang demikian, maka support PTN mapan dan kementerian pendidikan harus menyentuh universitas di daerah. Bukankah kementerian pendidikan adalah kementerian yang mengelola porsi APBN sangat besar di Indonesia? Terima kasih jika memang support telah diberikan.

Jadi orang asing di negeri sendiri



Nama saya marihot. Kalau orang mendengar nama saya, mungkin mereka akan segera bisa menebak apa suku saya, yaitu batak. Namun, ketika mereka bertanya asal saya, dan saya bertanya balik, “coba tebak!” dan mereka menjawab, “dari sumut” dan saya menjawab, “salah!” mereka jadi bingung. Yang jelas mereka tidak mungkin menebak “Jakarta” karena kulit saya yang gelap hahaha (sekalipun rambut tidak keriting, mata menyala) dan logat saya yang sedikit berbeda. Mereka lebih bingung lagi ketika saya mengatakan bahwa saya berasal dari merauke, kabupaten paling timur di Indonesia, yang terkenal melalui lagu perjuangan “dari sabang sampai merauke”. Pertanyaan selanjutnya dari orang-orang pasti bisa ditebak, “kok bisa kamu sampai kesana?” yang diiringi kebingungan mereka lagi ketika saya mengatakan bahwa saya lahir disana hahahaha.

Sebenarnya, salah satu resiko orang lahir diperantauan itu adalah tidak "jelas" darimana asalnya. Saya ini orang batak, tetapi tidak berasal dari sumut. Saya berasal dari merauke, tetapi tidak menunjukkan ciri orang Melanesia (yang turun temurun mendiami pulau papua). Lalu siapa saya sebenarnya? Hahaha.

Satu hal yang mungkin terdengar skeptis, tetapi sebenarnya adalah realita ialah tatkala baik disumatera utara maupun di papua, saya tetap orang “asing”. Di sumut, yang kenal saya hanya keluarga besar saja, dan tentu saja kalau di sumut saya akan disebut orang papua (ketika saya pulang kampung, saya memang disebut demikian oleh beberapa orang hehehe). Di papua, yang kenal sih banyak, tetapi tetap saya bukan aseli disitu, melainkan orang batak yang “kebetulan” lahir disana ahahaha. Sebagai perantau, mungkin takdir yang saya harus akui dengan lapang dada adalah dimanapun saya berdiri, saya tetap orang “asing”.

orang asing seperti saya mungkin akan mengalami beberapa hal aneh, apalagi dalam hal identitas budaya. Orang batak dari papua, tetapi tidak bisa berbicara dalam bahasa batak (sekalipun kalau dengerin orang ngomong sih ngerti). Berbahasa papua pun (misal suku marind) saya tidak bisa. Namun, pakaian adat saya ya ulos. Lalu bagaimana? Bingung kan yah?

Sebenarnya bukan hal yang buruk menjadi orang “asing”. Toh, selama menjadi batak dan punya marga masih dianggap batak lah ya hahaha hanya saja mungkin perantau harus berusaha lebih keras untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang layak demi kemanusian karena status orang “asing” ini (apalagi dengan era otsus sekarang). Namun, setidaknya saya masih warga negara Indonesia, berpaspor Indonesia, dan berKTP merauke. Baik perantau maupun warga lokal sama-sama dilindungi oleh hukum; dan tentu saja kepada mereka dikenakan hukum sebagaimana yang berlaku dalam konstitusi.

Tetap semangat untuk para perantau. Kehidupan memihak pada yang kuat.