Friday, February 24, 2017

Tatkala bertemu dengan anak berkebutuhan khusus

siang tadi saya makan ikan sambal, yang masih utuh dengan kepalanya.
..
..
..
..
..
okay ga penting amat sih haha memang pengantar yang buruk. siang ini, saya rehat sejenak dari pekerjaan untuk makan siang di salah satu warung dekat kantor. ketika makan, saya mendapat sedikit gangguan dari kucing jalanan yang berada dikaki saya. segera saya mendorong kucing tersebut dengan kaki saya agar kucing itu menjauh (seperti ada bulu naik ke hidung saya. saya jadi bersin-bersin). Setelah itu, seorang anak laki-laki justru mendatangi saya sambil berkata, "om,kasih puss nya kepala ikan, om kasih puss nya kepala ikan". saya tidak menggubris anak itu dan lanjut makan tetapi anak itu terus berbicara, "omm, kasih puss nya kepala ikan, om kasih puss nya kepala ikan".

saya cukup kaget ketika anak itu mengulurkan tangannya dan mencoba meraih kepala ikan dipiring saya. saya langsung tepis tangannya, tetapi anak itu terus berbicara, "om, kasih puss nya kepala ikan" berulang-ulang. sempat saya ingin memarahi anak ini, tetapi saya urungkan niat itu karena itu bukan ide yang baik. mungkin karena dia masih anak-anak, kale ya?! saya diam saja sambil terus makan, tetapi dia masih terus mendesak saya. dalam pikiran saya, "what happen with this kid? it just a cat."
pemilik warung akhirnya keluar dengan memukulkan sebuah taplak ke punggungnya (ya cuma taplak sih, paling ga sakit, cuma geli-geli doang). akhirnya dengan iseng saya bertanya, "ini anak siapa? datang dari mana?" dan si pemilik warung menjawab, "itu anak tetangga. pintunya mungkin terbuka sehingga anak ini jadi keluar"

"Hah? what?" saya jadi bertanya-tanya ada apa dengan anak ini. mungkin dia anak nakal di komplek, tetapi melihat gelagat anehnya yang ngoceh terus dengan kalimat yang sama meminta saya membagi lauk saya dengan kucing itu, saya kira anak ini semacam mengalami kelainan mental atau berkebutuhan khusus. dia terlihat normal, tidak ada kelainan di wajahnya atau di tubuhnya. Hanya saja, mungkin si pemilik warung kesal karena mungkin si anak kerap kali membuat kekacauan.

Kepala ikan itu akhirnya saya tinggalkan supaya di ambil kucing, walaupun akhirnya dibereskan pemilik warung. hadeuh, hari yang aneh dengan kejadian yang aneh. Andaikan memang anak itu berkebutuhan khusus, mungkin berat untuk menjalani peran sebagai orang tuanya. saya tidak tahu bagaimana anak ini dirumah sampai dia berani sekali dengan nada sedikit memerintah, ia menyuruh saya memberi makan kucing sementara saya sedang makan. it just a cat, but, ummm, I think he can't tell a differences between show mercy to cat and show respect to an adult. but ummm, I think I did right. I hold my mad, keep quite, and quickly realized that the kid is different. what a day!

Ya sudahlah. namanya saja anak-anak. jadi kasihan sih sama anak itu. mungkin dia tak mengerti apa yang dia perbuat membuat orang lain jengkel. Namun, ketidakmampuan untuk paham itu karena kekurangan yang mungkin dimilikinya sedari lahir dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. diam saja dan bersabarlah. good job kid! I hope you have a good day :D

Monday, February 20, 2017

tentang hits terbaru Linkin Park 2017 : "heavy"

sudah tiga tahun lamanya sejak band favorit saya, linkin park, mengeluarkan albumnya yang terakhir. Linkin park ditahun 2017 ini akan mengeluarkan album yang berjudul "one more light". saya memang penasaran warna apa dan materi seperti apa yang akan Linkin Park bawa dalam album barunya. baru satu lagu yang dirilis di youtube, yakni lagu yang berjudul "heavy" yang dibawakan linkin park bersama dengan kiiara.

Seorang teman facebook saya pernah berkomentar, "lebih seru melihat komentar di youtube dibanding melihat videonya". ya memang benar. banyak fans linkin park yang kecewa dengan materi yang dibawakan dalam lagu "heavy". linkin park seperti kehilangan unsur rock nya. ada yang menuding linkin park membuat lagu pop, ada yang membandingkan lagu "heavy" dengan lagu linkin park sebelumnya, bahkan membandingkan dengan lagu pada album pertama, hybrid theory. memang pada dasarnya lagu "heavy" itu lagu yang bertempo pelan dan liriknya seperti menyiratkan suatu kegalauan atau kekalutan. Namun, ini bukan pertama kali linkin park membuat lagu bertempo pelan, bukan? kita masih bisa mengingat lagu  "my december" atau "in between" yang tak memiliki unsur gitar sama sekali.

Terlalu dini untuk menilai album "one more light" hanya dengan sebuah single yang baru rilis. apakah Linkin Park memang meninggalkan aliran cadas yang selama ini menjadi ciri khasnya atau tidak, saya pun tidak mengetahuinya dengan pasti. Namun, saya pikir saya menyukai lagu "heavy" dan secara umum saya menyukai semua lagu linkin park apapun materi yang mereka bawakan. Lirik lagu linkin park memang tidak menggunakan bahasa yang lebay, tetapi dapat dimengerti. lirik yang mereka bawa seakan bertambah usia seiring dengan bertambahnya usia para fansnya yang semula masih remaja dan sekarang menjadi dewasa. 

Linkin park memang berbeda sekarang ini. suara chester bennington sudah tak segarang awal tahun 2000 dan kiblat musik dunia pun banyak berubah. Namun, kalau saya lihat, warna lirik lagu-lagu linkin park tidak banyak berubah. biarlah, kawan. semua orang pasti menjadi tua. saya hanya bisa berterima kasih untuk masa remaja yang ngerock bersama Linkin Park. mereka termasuk golongan yang telah mewarnai masa remaja saya hahaha *cem betul*

Fans sejati tidak akan meninggalkan idolanya hanya karena idolanya berubah genre. fans liverpool saja tetap setia walau tim kesayangannya lama tak juara hehehe *peace ya*

Linkin Park - heavy lyric

"I know I'm not the center of the universe
But you keep spinning round me just the same
I know I'm not the center of the universe
But you keep spinning round me just the same
And I drive myself crazy
Thinking everything's about me
I'm holding on
Why is everything so heavy
Holding on
So much more than I can carry
I keep dragging around what's bringing me down
If I just let go, I'd be set free
Holding on
Why is everything so heavy"

Sunday, February 12, 2017

"kamu tidak sespesial yang kamu pikir"

"we use money we don't have to impress people we don't like".

suatu waktu dalam momen santai saya, saya bermain facebook dan melihat quotes diatas di post oleh suatu akun official. ya, seperti standar quotes pada umumnya sepertinya memang biasa saja. Hanya saja, kemudian pikiran saya mengalami mindblowing. kira-kira untuk apa seseorang menghabiskan uang selain untuk kebutuhan hidup? fakta yang menggelikan justru ada beberapa yang menggunakannya hanya untuk narsis.

narsis disini bukan sekedar suka foto selfie lalu mengunggahnya di media sosial, tetapi lebih dalam lagi hal ini menyoal bagaimana orang - orang demikian menempatkan diri seolah olah dirinya adalah center of society, atau lebih parahnya adalah center of universe. memang pada dasarnya aktualisasi diri merupakan kebutuhan hidup paling puncak menurut abraham maslow. Namun, ada kalanya makna aktualisasi diri ini bergeser menjadi negatif, yang kemudian menjadi narsisme

mungkin ini adalah akibat dari terbukanya akses informasi dengan sangat luasnya. kita tidak hanya bisa mendapat informasi, tetapi juga memberi informasi dalam banyak konten, entah kutipan, tulisan, foto, video, audio, dlsb. Kemudian narsisme ini menjalar tatkala orang berpikir bahwa dirinya memiliki sesuatu yang bagus, yang baik, dan yang menganggumkan, yang kemudian ia mulai menempatkan diri sebagai center of society dan merasa ia pantas mendapat pujian dari orang lain. well, no body cares hehehe

yeah no body cares. Namun, orang - orang ini menginginkan perhatian, pujian, dan sorak karena sudah merasa dirinya istimewa, padahal biasa saja. mereka ingin dikagumi dan dianggap sesuatu oleh sekelilingnya, padahal mereka sejatinya orang yang biasa saja. Yang satu datang kepada yang lain menginginkan perhatian, mulai centil, genit, lalu pindah ke orang yang lain dan bersikap yang sama untuk seterusnya. Kemudian, kekecewaan datang tatkala mereka tidak mendapat semua perhatian itu.
mereka yang tertimpa kemalangan pun bisa narsis juga. mereka menempatkan diri sebagai center of society dengan label pihak yang paling menderita. mereka ingin diperhatikan, dibujuk, dibela rasa, diberi belas kasihan, dan mendapat empati lebih. hal seperti ini juga berbahaya. dalam keadaan baik maupun buruk, manusia tetap bisa narsis. internet sekarang banyak menunjukkan kasus-kasus orang hanya ingin menjadi yang terkemuka dan menjadi lupa diri. orang merasa diri benar dan marah ketika dikritik performanya. narsisme dan egoisme bisa jadi kombinasi yang buruk.

memang sejauh ini manusia masih dianggap sebagai mahluk cerdas dimuka bumi. Namun, manusia tetap kecil diantara alam semesta yang luas ini. bahkan bumi yang luas ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan asteroid raksasa diluar angkasa sana. sebenarnya siapa manusia sehingga berhak "menuntut" dan "meminta" perhatian dari sesamanya? manusia jelas boleh menuntut hak jika telah melaksanakan kewajibannya dan manusia jelas berhak menuntut apabila hak-haknya tidak dipenuhi setelah melaksanakan kewajiban itu. Namun, berusaha membuat orang lain mengagumi diri mereka dengan cara-cara yang tidak patut itu sangat diluar konteks kenormalan dalam bermanusia. dari zaman batu sampai zaman sekarang pun manusia tetaplah terdiri dari air, daging dan tulang.

manusia perlu melakukan apa yang perlu dia lakukan. tugas dan tanggung jawabnya ia penuhi, lalu ia dapat haknya. dikagumi dan dipuji itu bukanlah hak. orang dalam kemalangan pun tidak patut menuntut perhatian dari orang lain. cinta diri berlebihan, keinginan menempatkan diri diatas segalanya, serta haus pujian dan perhatian adalah racun pikiran. Banyak orang tidak sadar bahwa mereka narsis. Namun, memeriksa tingkat kenarsisan itu mudah saja. pernahkah anda kecewa terhadap orang yang anda inginkan memerhatikan anda, tetapi ia tidak memberikannya? jika ya, maka anda memang narsis. pernahkah anda kecewa ketika dalam kemalangan, anda tidak mendapat empati dari teman-teman anda? jika ya, maka anda memang narsis. dalam kasus orang teis, jika anda mengalami kemujuran, apakah anda pernah ingat Tuhan anda? jika tidak, maka anda memang narsis. jika anda teis, anda mengalami kemalangan, pernahkah anda malah complain kepada Tuhan mengapa anda mengalami kemalangan? jika pernah, maka anda memang narsis. anda tidak patut kecewa atas hal yang untuk memberikannya kepada anda, seperti perhatian dan empati, orang lain cukup berinisiatif. anda bukan center of society, anda bukan center of universe.

Yang kita butuhkan adalah cek diri, sadar diri, dan rendah hatilah. jaman ini memang membuat kebenaran terlihat abu-abu, tetapi sebenarnya hitam dan putih itu jelas sekali, sejelas tak bisa bersatunya air dan minyak. Ketika kemalangan terjadi, pikirkanlah apakah kemalangan tersebut bisa mentransformasi pemikiran kita ke tahap yang lebih baik. ketika kemujuran datang, kita tetap waspada dan rendah hati. yang perlu hilang dari dalam diri adalah rasa untuk diistimewakan. kita tidak perlu itu semua. justru yang kita perlu lakukan adalah banyak memberi. alih-alih diperhatikan, ita perlu banyak memberi perhatian dan empati kepada orang lain yang memang layak membutuhkannya. diatas semuanya, kita harus selalu rendah hati dan banyak bersyukur atas kebaikan dan kemalangan yang terjadi dalam hidup.

Saturday, December 31, 2016

dua ribu tujuh belas

senang akhirnya bisa menulis kembali. tak terasa sudah 366 hari kita jalani di tahun 2016 ini dan beberapa jam lagi kita akan melangkah ke tahun yang baru. saya tergerak untuk menulis sedikit dari apa yang ada dipikiran saya mengenai tahun ini (2016); mengenai apa yang saya lihat di internet, mengenai materialisme, dan banyak hal lain hehe.

di beberapa media sosial yang saya miliki, jika melihat dari feed yang berbau curhat (ga usah bahas politik ah, capek!), sepertinya tahun ini adalah tahun galau bagi banyak anak muda, baik yang fresh graduate maupun yang sudah berumur dan/atau lewat 1/4 abad seperti saya ha...ha...ha. pertanyaan yang kerap didengar selalu sama, yakni "kapan lulus?", "kapan kerja?", "kapan nikah?", dan lain sebagainya. bagi yang sedang galau pun akhirnya bertanya kepada diri sendiri, "kapan punya pasangan?", "kapan punya duit sendiri?" dan masih banyak lagi. sepertinya memang dijaman milenial ini begitu banyak hal yang orang selalu renungkan atau gumulkan dengan diri sendiri. apakah ini merupakan gejala zaman, sayapun tidak bisa memastikan. Namun, yang pasti, selalu saja ada hal yang kita galaukan/gumulkan dan entah mengapa hal-hal yang kita galaukan itu kerapkali menyoal hal-hal yang belum kita miliki, yang menurut standar orang lain (bahkan orang tua) harus kita miliki secepatnya.

saya mungkin terpaksa harus mengiyakan bahwa kita harus memiliki banyak hal diumur seperti ini, entah pekerjaan atau uang atau posisi atau sejumlah benda atau apapun. semua itu adalah tuntutan zaman bagi anak muda. Namun, bukankah nasib seseorang itu sudah ada yang mengatur? sebagai seorang teis, saya pikir bahwa nasib saya sendiri sudah Tuhan yang mengatur sehingga kita hanya perlu berusaha. Namun, apa jadinya jika apa yang sudah Tuhan gariskan tidak sesuai dengan keinginan kita atau tidak sesuai dengan tuntutan sosial? haruskah kita mengeluarkan segenap energi dan menghabiskan waktu untuk memperoleh apa yang zaman ini tuntut kita harus miliki?

saya pikir kita tidak perlu munafik dan kita harus jujur terhadap diri sendiri bahwa kita membutuhkan semuanya itu. uang memang bukan segalanya dalam hidup ini, tetapi segala sesuatu memang butuh uang. untuk gedung resepsi perlu uang, untuk katering butuh uang, untuk bayar kontrakan butuh uang. kekasih itu bukan segalanya, tetapi manusia itu mahluk sosial dan hidup sendiri itu tidak enak. manusia perlu teman berbagi; perlu teman hingga pasangan hidup. Namun, apakah kita harus mengerahkan seluruh energi kita untuk itu semua? apakah kita harus memfokuskan seluruh pikiran kita untuk itu semua?

kemudian saya terinspirasi oleh sebuah penggalan dalam injil yang menurut saya menarik. matius 6 : 32a mencatat, "semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah". dalam konteks bagian itu, apa yang dimaksud dengan "semua itu"? yang dimaksudkan adalah makanan, minuman, dan pakaian (matius 6:31). Namun, bukankah kita membutuhkan itu semua? lalu jika kita mengejar semua itu, apakah kita lantas tak ubahnya sama dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah?

ketika saya melihat bagian itu, saya jadi berpikir, jikalau memang sekarang saya sedang mengejar hal-hal yang demikian, dan jikalau saya memanggil diri saya sebagai kristen, maka saya akan terjun kedalam sebuah ironi, tatkala saya mengejar hal yang dikejar oleh mereka yang tak mengenal Allah. lalu apa bedanya saya dengan mereka?

memang didalam matius dituliskan bahwa Allah mengerti kita membutuhkan semuanya itu dan akan menyediakannya tatkala kita berusaha. Namun, isu yang sangat penting disini adalah perintah "carilah kerajaan Allah dan kebenaranNya". Bagaimana caranya mencari kerajaan Allah saat kita sedang fokus berhitung didalam pekerjaan? atau dalam mendesain sesuatu? kemana pikiran kita dan perasaan kita harus kita tempatkan dalam proses pencarian kerajaan Allah tatkala konsentrasi kita tertuju pada apa yang ada dihadapan kita?

pikiran saya akhirnya berlabuh pada suatu hal, yakni ketamakan. Ya! ketamakanlah yang membuat bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah menyerang dan menaklukkan bangsa lain untuk dijarah. ketamakanlah yang membuat kita jahat. ketamakanlah yang membuat kita berlaku tidak adil. keserakahanlah yang membuat kita menghancurkan orang lain. ketamakan akan berujung pada sebuah target, dimana kekecewaan dan kemarahan sedang menunggu tatkala kita tidak bisa mencapai target yang kita buat sendiri dan kita kenakan sendiri pada diri kita. aktualisasi diri yang tidak sesuai kehendak Allah yang menyebabkan kita menjadi orang yang selalu kuatir. kesombongan pada diri sendirilah yang membuat kita akhirnya rendah diri tatkala dalam izin Tuhan tren positif yang kita alami akhirnya berhenti. akhir kata, semua kekuatiran terjadi karena kita tidak (atau terlambat) mengosongkan diri sekosong-kosongnya, tetapi mengisinya dengan kehendak dan nafsu kita sendiri dan bukan kehendak Allah.

dalam waktu-waktu kebelakang, saya seperti mengerti akan suatu hal, jikalau kerendahan hati dan tekad mengosongkan diri itu sangat dekat. mengosongkan diri dalam arti menghilangkan segenap ego yang kita punya, menghilangkan segala ketamakan dan rendah diri, lalu berfokus dan mengisinya dengan apa yang Allah kehendaki. mungkin, dalam hidup beriman, di bagian inilah yang barangkali sulit bagi kita untuk dijalani karena Allah adalah pribadi yang berkehendak, sedangkan kita sendiri adalah pribadi yang berkehendak juga. Jadi, kehendak siapakah yang harus kita ikuti?  inilah bagian yang sangat sulit.

disinilah terlihat bahwa betapa kita memerlukan pertolongan Tuhan, pertama, untuk melunakkan hati kita yang keras; yang kerapkali mengikuti kehendak diri sendiri. kedua, kita harus menyadari bahwa kita adalah mahluk yang sejatinya telah berdosa dan dengan kerendahan hati mengakui ketidakmampuan kita untuk hidup benar dihadapan Tuhan tanpa Tuhan ikut campur. ketiga, mengosongkan diri dan menjadikan kehendak Allah, seperti yang telah IA firmankan menjadi fokus kita. Allahlah yang harus kita senangkan sekarang, bukan orang tua, bukan kekasih, bukan teman, bukan siapapun. Allah adalah kasih dan IA mencintai keadilan dan hukum, maka hiduplah dan berlakulah adil. Allah membenci dosa maka kita harus memelihara hidup agar tetap kudus. berat, bukan? ya, memang berat jika kita tidak berserah sepenuhnya.

"apakah saya sudah mengosongkan diri dan mengikuti kehendak Allah?" harus tetap kita tanyakan pada diri sendiri. sekarang, jikalau pertanyaan itu ditanyakan, apakah kita sudah melakukannya?

selamat menyongsong tahun baru, selamat mengosongkan diri.

Friday, August 19, 2016

hak istimewa dan rasa lelah

"roh memang penurut, tetapi daging lemah"

kutipan diatas rasanya tidak asing lagi pagi menganut nasrani karena memang saya mengambilnya dari alkitab. mungkin apa yang saya tulis ini belum tentu kontekstual dengan kutipan diatas pada kondisi pada saat Yesus mengatakannya di taman getsemani. Namun, mungkin apa yang saya pikirkan ini sedikit lebih filosofis (cem betul) hahaha. semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

saya sedang memikirkan soal hal ini, "apakah bekerja, membantu orang, memaafkan orang, dan melakukan berbagai hal yang baik adalah sebuah kewajiban?" saya sering melihat banyak fenomena bahwa melakukan hal baik di era ini dianggap sebagai kewajiban, bahkan sesuatu yang menyusahkan diri, terlebih jika itu menyangkut orang lain. apakah sebenarnya sedari awal Allah hanya memberi manusia kewajiban dan kewajiban yang rasanya sekarang ini sangatlah memberatkan?

menariknya adalah Allah sudah memerintahkan manusia untuk bekerja dengan memelihara serta mengusahakan taman eden. apakah ini kewajiban (yang memberatkan)? tentu tidak. ini adalah privilege (hak istimewa). Allah memberikan hak istimewa kepada manusia untuk mengelola seluruh ciptaanNya. saya jadi berpikir, sepertinya memang apa yang Allah perintahkan kepada manusia bukanlah sebuah perintah yang kejam dan otoriter, tetapi sebuah hak istimewa yang Allah berikan dalam relasiNya dengan manusia. lalu, mengapa bekerja di era ini menimbulkan banyak keluhan?

dosa. ya! manusia telah jatuh kedalam dosa. tubuh kita menjadi terbatas. kita bisa merasa sakit, merasa lelah, diserang penyakit, bahkan jauh didaalam hati kita, kita merasa kecewa, marah, sedih, dan segala bentuk perasaan negatif yang akhirnya mempengaruhi tubuh kita. manusia yang kehilangan kemuliaan Allah menjadi rapuh dan tak mampu, bahkan mazmur mencatat bahwa umur manusia hanya sampai 70 tahun dan jika kuat, 80 tahun. bekerja yang adalah hak istimewa yang Allah berikan berubah menjadi sesuatu yang membosankan bahkan memuakkan tatkala tubuh kita mulai lelah dan penat. mengasihi yang adalah hak istimewa berubah menjadi berat ketika hati kita disakiti dengan luar biasa. kasih berganti menjadi amarah dan dendam.

ternyata memang tidak hanya tubuh manusia yang rapuh, tetapi juga hatinya. kejatuhan manusia kedalam dosa membuat semua manusia menjadi rapuh, entah mereka mengakuinya atau tidak. dengan ditambah hasutan si jahat, maka segala bentuk hak istimewa yang Allah berikan kepada kita untuk kita lakukan menjadi terasa berat, apalagi jika itu menyangkut orang lain sehingga orang kemudian lebih memfokuskan diri pada dirinya sendiri, padahal sejatinya manusia adalah mereka yang hidup dalam relasi, baik dengan Tuhannya maupun dengan sesamanya.

kejatuhan manusia didalam dosa membuatnya tak mampu untuk melakukan hak-hak istimewa yang Allah berikan ini, terlebih ketika tubuhnya sedang lelah. manusia lelah bekerja, lelah mengasihi, lelah mengampuni, dan berbagai macam kelelahan yang lain adalah bukti kerapuhan manusia. dosa membuat manusia lelah lahir dan batin. rasanya tidak mungkin manusia bisa mengerjakan hak-hak istimewa ini jikalau tidak ada tambahan kekuatan yang menguatkan hatinya, yakni kekuatan dari Allah sendiri.

sepertinya memang hidup manusia menjadi makin berat dari hari ke hari karena harus berhadapan dengan orang yang mungkin tak memperlakukannya sesuai dengan yang diharapkan atau harus menghadapi beban-beban lain yang mungkin ia takkan bisa menyelesaikannya karena rasa lelah ini. Namun, jika kita percaya kepada Tuhan, bukankah mindset kita harus diubah bahwa apa yang kita kerjakan didalamNya akan memperoleh perkenaanNya? Namun, sering kita lalai soal ini karena sebagai manusia, kita adalah mahluk yang rapuh. untuk itulah kita memang harus terus memohon ampunan Tuhan dan memohon agar hati kita dikuatkan olehNya disaat fisik kita lelah dan hati kita disakiti orang lain.

roh memang penurut, tetapi daging lemah. selama roh kita masih mendiami tubuh yang rapuh ini, kita belum sepenuhnya sempurna. saya jadi berandai apabila tubuh kita immortal (selamanya kuat) mungkin kita takkan pernah mengeluh dan keberatan ketika melakukan apa yang Allah inginkan kita kerjakan. Namun, kita sudah jatuh kedalam dosa dan tetap terus akan mengalami rasa lelah sampai akhir hayat.

saya pikir kita semua harus kembali ke rancangan awal Allah sebelumnya jikalau kita harus mengerjakan panggilan kita selama kita masih didunia. hati maupun fisik kita pasti akan rapuh. semoga pandangan kita tetap tertuju kepada Tuhan dalam mengerjakan panggilan (hak istimewa) yang Allah telah berikan dan jangan pernah lupa untuk memohon agar Tuhan menguatkan hati kita agar kita bisa dengan sabar dan tabah mengerjakan panggilan kita.