Monday, July 30, 2012

kisah OSKM 2012 : perihal dewasa dalam menyikapi kritik

akhir-akhir ini sedang hangat-hangatnya di perbincangkan mengenai OSKM 2012, khususnya kritik terhadap pelaksanaan OSKM 2012 yang konon katanya di lemparkan oleh senior yang sudah terlebih dahulu kenyang asam garam dalam mengader angkatan yang baru masuk. Terlepas dari siapa yang benar atau salah, saya hanya ingin melemparkan pandangan sebagai massa kampus yang awam.

Ada orang, atau segolongan orang yang menganut paham bahwa kaderisasi haruslah berjalan ideal, sekalipun keadaan ideal itu hampir mustahil terjadi. Justru karena keadaan ideal sulit dicapai, maka seorang pengader harus berusaha sampai batas tertentu, baik dari segi kuantitas maupun kualitas agar kaderisasi yang dilakukan berjalan dengan optimal. Jika idealisme dibenturkan dengan realita, mau tidak mau kita harus berhadapan dengan kritik, bahkan yang pedas dan merendahkan martabat sekalipun. Secara natural ego manusia memang anti terhadap kritik. Namun, apapun bentuk dari kritik itu, haruslah dengan lapang dada diterima apa yang baik, dan yang tidak baik segeralah dibuang. Jika menyikapi kritik dengan ego, apalagi ego komunal, niscaya yang terjadi hanyalah debat kusir semata.

Lalu, mungkin pihak dikritik akan merasa bahwa mereka sudah berusaha sekeras ini dan mereka akan menggumam didalam hati bahwa pengkritik itu tidak berhak menyatakan kritik seperti yang dilemparkan karena pihak pengkritik tidak melihat pihak yang dikritik dalam berusaha. Namun, disatu sisi, pihak yang dikritik sama sekali tidak melihat bagaimana pihak pengkritik dulu berusaha untuk menyiapkan kegiatan kaderisasi seperti OSKM, bukan? sekalipun belum tentu terjadi disemua kejadian, tetapi hasil adalah cerminan proses. Pihak pengkritik bisa membandingkan hasil yang sekarang dengan hasil terdahulu, dan sesuai UUD 1945, kemerdekaan menyatakan pendapat itu sah. Mereka bisa memberikan penilaian, sekalipun secara de jure tidak ada yang memberi mereka hak. suka atau tidak suka, pihak yang dikritik pun harus menerima kenyataan bahwa ada pihak diluar sana yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.

Sebenarnya, semua proses mulai dari diklat, forsil, kajian, dsb ingin menghasilkan apa? menghasilkan panitia yang berkompeten? atau, menghasilkan kader yang mengetahui apa, siapa, bagaimana, kapan, mengapa, atau apapun tentang dirinya sebagai mahasiswa? hasillah yang kita kejar melalui proses. jika hasil yang kita harapkan adalah mahasiswa baru mengetahui tentang sesuatu, mengapa tidak fokus saja ke hal itu? Apa kata para kader melihat respon pengader mereka saat pengader mereka dikritik jikalau pengader mereka merespon negatif kritik yang dilempar terhadap mereka? Melihat tingkat subyektivitas yang tinggi di Indonesia, asumsi saya, para kader lebih cenderung melihat teladan para pengader mereka. kalau kader-kader melihat pengader mereka sebagai pihak yang antikritik, bagaimana dengan kader-kader ini dimasa datang? mungkin saja mereka akan jauh lebih antikritik. Lalu, tercapaikah tujuan melaksanakan ini dan itu?

Bagi pihak pengkritik, jika mereka merasa bahwa mereka adalah kaum intelek bangsa, mungkin lebih baik memberi tanggapan yang obyektif. Obyektif dalam hemat saya, bisa menjabarkan kekurangan panitia dari sisi kuantitas maupun kualitas, dan disertai dengan pembanding. Jika sudah, terima kasih harus dilontarkan panitia kepada para pengkritik, terlepas dari gaya bahasa atau penggunaan kata yang mungkin terkesan memojokkan panita. Namun, menurut hemat saya, metode penyampaian kritik seharusnya tidak perlu dipedulikan, kita cukup peduli pada inti yang ingin disampaikan demi pembaharuan kedepannya.

Kemudian, bagi mereka yang jauh dari bandung, entah sedang kerja praktik atau liburan atau apapun sebaiknya tidak perlu ikut memberi komentar karena mereka tidak melihat sendiri kejadian di lapangan. semua mengakui bahwa lapangan itu dinamis. Implikasinya, kejadian dilapangan pun bisa mengeluarkan tanggapan yang dinamis juga. Kalau hendak memberikan komentar, komentari/klarifikasi saja pendapat para pengkritik, apakah benar sudah obyektif atau tidak. Jangan malah berkomentar untuk membela panitia atas motif kekeluargaan dan solidaritas, tetapi kejadian dilapangan sendiri mereka tidak melihat. hal itu sama saja dengan prosa lama, "orang buta menuntun orang buta, keduanya jatuh kedalam jurang". Janganlah muncul niatan untuk melancarkan aksi balasan, apalagi ditujukan kepada satu oknum dan membawa-bawa nama lembaga. Itu tidak dewasa.

sekarang adalah bulan puasa. disaat banyak yang berpuasa, kendali atas emosi sangat diperlukan, apalagi untuk kegiatan yang menguras energi lahir dan batin seperti OSKM. Kalau memang ada oknum dalam panitia yang tidak suka dikritik, mengapa yang bersangkutan mau menjadi panitia? mau berkegiatan berarti harus siap untuk dikritik. Lalu, andaikata ada segolongan orang yang tidak suka dikritik, mengapa sesuai pelaksanaan dilaksanakan evaluasi? bukankah salah satu kegunaan evaluasi adalah menjabarkan kekurangan-kekurangan yang terjadi agar tidak terjadi lagi kedepannya?

jika dikritik, tidak perlu membela diri, apalagi ofensif. Terima saja semua yang baik dan buang semua yang tidak baik. orang yang dewasa pasti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, bukan?

bagi para pengkritik, terima kasih atas masukannya. setiap kritik, apapun metode penyampaiannya, pasti ada hikmah yang bisa diambil.

mari saling belajar, mari saling mengembangkan diri. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. sadarkah anda, gesekan antar besi itu dapat menimbulkan percikan api?

Wednesday, July 25, 2012

Pengalaman membuat paspor di Bandung

Kali ini saya akan mensharingkan pengalaman saya dalam mengurus paspor di kantor imigrasi kelas I bandung, semoga bermanfaat bagi anda yang berkeinginan untuk mengurus paspor.
(marihot siburian on youtube)

pertama-tama saya menyarankan anda untuk mendaftar dulu secara online untuk mempermudah anda dalam pembuatan paspor. Lalu, download pdf hasil pendaftaran anda dan kemudian datang ke kantor imigrasi bandung sesuai hari yang tertera pada cetakan pdf tadi. anda harus datang dengan membawa semua dokumen yang dibutuhkan untuk kelengkapan persyaratan pengurusan paspor anda (fotokopi KTP yang kedua sisinya berada dalam selembar kertas A4, fotokopi kartu keluarga, dan fotokopi akta kelahiran.)

Lalu, saya datang ke kantor imigrasi bandung dengan membawa semua berkas. setelah tiba di kantor imigrasi, saya terlebih dahulu membeli map persyaratan yang terletak dibagian belakang kantor, dimana saya kesana melalui koridor sebelah kanan kantor dan menemukan seperti gambar berikut.

gambar 1.

Lalu, saya masuk kedalam ruangan berikut dan membeli map serta sampul paspornya. (saya mengeluarkan Rp. 10.000,- untuk map dan sampul paspor).

 gambar 2.

setelah membeli, saya datang ke loket seperti gambar berikut dan meminta formulir permohonan paspor.

Gambar 3.

kemudian saya mengisi formulir yang telah saya minta diloket diatas.

Gambar 4.

Setelah itu, saya mengambil nomor antrian untuk penyerahan berkas permohonan paspor didalam kantor imigrasi, yang ditunjukkan gambar berikut. lalu, saya meminta kepada petugas yang berjaga disana agar saya diberi nomor antrian untuk tujuan penyerahan berkas permohonan pembuatan paspor.

Gambar 5.

berikut ini adalah gambar loket dimana saya menyerahkan berkas. (serahkanlah sesuai nomor antrian anda).

Gambar 6.

 ada beberapa hal yang perlu anda ketahui, yaitu tentang jenis-jenis paspor. paspor dibedakan berdasarkan warna sesui kegunaannya. paspor untuk wisata berwarna hijau (gambar 8). paspor yang saya urus adalah paspor wisata sehingga saya diberi sampul paspor berwarna hijau.


 Gambar 7.

Gambar 8.

Jadi, bagi anda yang ingin berpergian keluar negeri anda cukup mengurus paspor wisata (paspor berwarna hijau). Bagi anda yang masih berstatus mahasiswa, jika anda ingin mengurus paspor jenis ini, anda tidak perlu menyertakan surat keterangan dari perguruan tinggi dimana anda berkuliah karena sifat paspor ini adalah perseorangan. Jika petugas meminta surat keterangan dari kampus (khusus mahasiswa), anda cukup menjelaskan bahwa anda hanya ingin berwisata dan paspor yang anda uruspun adalah paspor wisata sehingga surat keterangan dari kampus tidak diperlukan.

 setelah saya menyerahkan formulir, saya mendapat kupon seperti berikut.

 Gambar 9.

saya menyerahkan berkas saya pada tanggal 11 juli 2012 dan harus kembali pada tanggal 12 juli 2012 untuk foto dan wawancara. saya sempat bertanya pada tanggal 12 juli kala itu mengapa data saya tidak divalidasi pada saat tanggal 11 juli. salah satu petugas disitu menjawab bahwa tanggal 11 juli adalah pemilu calon gubernur DKI jakarta sehingga kantor imigrasi di jakarta libur sehingga data saya tidak bisa di validasi pada saat itu juga.

sampai tanggal yang ditentukan pada kupon diatas, saya datang pada saat tanggal itu juga, yaitu tanggal 12 juli 2012 (pagi hari) kemudian datang ke tempat pengambilan nomor antrian (gambar 5) dan saya berkata pada petugas yang menjaga disana bahwa saya ingin membayar dan saya meminta nomor antrian untuk pembayaran. Kemudian, oleh petugas loket pembayaran kupon saya di klip dengan nomor antrian saya sebagai berikut.

Gambar 10.

Kemudian, saya diminta mengambil formulir yang anda telah serahkan sebelumnya ke salah satu loket (saya lupa loket yang mana) kemudian formulir tersebut saya serahkan ke loket pembayaran.

Gambar 11.

untuk diperhatikan bagi yang mendaftar online. pendaftar secara online harus melakukan validasi data anda, yaitu kecocokan antara data yang anda masukkan secara online dengan data yang ada diformulir dan lampirannya. validasi dilakukan di loket utama bagian paling kanan (gambar 6 paling kanan)

setelah selesai divalidasi, saya kembali ke loket pembayaran untuk menyerahkan kembali formulir saya dan saya menunggu sampai nama saya dipanggil (saya menunggu dipanggil sekitar 5 - 10 menit). kemudian, anda menyerahkan uang sesuai tarif (untuk paspor wisata yang saya urus, saya membayar sebesar Rp 255.000,- ) kemudian anda akan mendapatkan slip pembayaran seperti berikut.

Gambar 12.

di loket foto dan sidik jari, terdapat 3 tempat untuk mengambil foto, yaitu bagian A, B, dan C. saya menggunakan nomor antrian saya untuk membayar tadi untuk mengantri dalam pengambilan foto dan sidik jari juga.

Gambar 13.

Seperti yang saya jelaskan, ada tiga tempat untuk mengambil foto, yaitu A, B, dan C, seperti gambar berikur.

 Gambar 14.

Gambar 15.

Pada saat saya mengantri, saya mendapat giliran foto pada loket sesuai gambar 15. nomor antrian saya C005. Pada saat itu, saya menunggu sekitar 30 menit, tetapi di loket C tidak ada petugas sehingga saya melapor ke petugas penjaga kupon antrian bahwa petugas di loket C sedang tidak ditempat. Setelah menunggu sedikit lagi, saya dipindah ke loket B oleh seorang petugas untuk diambil foto dan sidik jari.

setelah difoto dan diambil sidik jari, kemudian saya mengantri untuk wawancara. setelah wawancara, saya menandatangani paspor yang masih kosong. kemudian saya diberi sebuah kupon pengambilan paspor saya. di kupon tersebut (gambar tidak tersedia) dijelaskan bahwa paspor saya selesai tanggal 18 juli 2012.

Saya datang mengambil pada tanggal 25 juli 2012. saya datang dan mengambil antrian (gambar 5) untuk antrian pengambilan paspor. kemudian, saya duduk di sebelah kiri loket utama (gambar 6) yang tampilannya seperti berikut.

Gambar 16.

Kemudian, sesuai nomor antrian saya, saya menyerahkan kupon pengambilan dan kemudian saya diminta menunggu sebentar (saya menunggu kira-kira 15-20 menit). Kemudian nama saya dipanggil dan saya perlu menulis nama dan membubuhi tanda tangan pada suatu formulir dan kemudian akhirnya saya mendapatkan paspor saya.

Gambar 17.

sekian pengalaman saya dalam mengurus paspor.

catatan :

Gambar 18.

JANGAN SEKALI-KALI MENGGUNAKAN CALO DALAM PENGURUSAN PASPOR ANDA, BAGAIMANAPUN CEPATNYA PROSES SELESAINYA PASPOR ANDA. JANGAN BIARKAN PRAKTIK KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME MERAJALELA. LAKUKANLAH PROSES DENGAN BENAR JIKA ANDA MERASA BAHWA ANDA ADALAH WARGA NEGARA YANG BAIK. MARI BERANTAS KKN!



semua gambar diambil didalam dan diluar kantor imigrasi kelas I bandung

Monday, July 23, 2012

Berita yang terlewat dari kompleks taman hewan

setelah packing barang untuk bersiap pindah kost, saya yang baru sadar belum makan siang akhirnya memutuskan untuk membeli kolak disekitar kost. Akhirnya ketemu sebuah warung yang baru akan buka. Berhubung saya mengenal si ibu yang empunya warung, akhirnya saya duduk didalam warung sambil menunggu beliau menyiapkan kolaknya. ibu itu tinggal di sekitar kost saya dan beliau sangat ramah dan sering menyapa saya sehingga sayapun kenal beliau.

Sudah dua tahun saya tinggal didaerah taman hewan dan kurang lebih selama itulah saya mengenal ibu tersebut. sepintas tampak tidak ada beban diwajahnya. sambil menyiapkan kolak, kami pun mengobrol dan si ibu bercerita bahwa suaminya baru saja meninggal. Saya terkejut. suaminya merupakan orang yang biasanya menjaga warung nasi kuning didekat pintu gerbang taman hewan dan saya biasa sarapan disitu. setelah kolaknya tersedia, saya melanjutkan mengobrol dengan si ibu. sambil makan, ia bercerita kalau suaminya sudah 4 bulan dirumah sakit karena ada benjolan di paru-paru suaminya dan akhirnya meninggal. saya baru mendengar berita ini karena saya tidak tinggal dikost karena harus menjalani istirahat total pascakeluar dari rumah sakit. saya hanya bisa mengatakan turut berdukacita kepada si ibu dan si ibu hanya bisa tersenyum, tersenyum pedih, sembari menyiapkan dagangannya.

Seperti tidak ada beban. Di bulan ramadhan ini, ia kehilangan suaminya, dan sekarang ia harus menafkahi keluarga sendirian. Ia tidak mapan secara ekonomi, tetapi ia tetap terus bekerja. Selain itu, ia tetap ramah terhadap mahasiswa yang selalu dilihatnya. Ia tetap tersenyum sambil menyapa setiap mahasiswa yang dikenalnya, saya salah satunya. Seperti tiada beban, sekalipun dalam pikiran saya, saya yakin ibu ini sedang terpukul karena di tinggal suaminya.

ini suatu realita yang mencengangkan. Saya bisa melihat seseorang yang tidak larut dalam kesedihan sekalipun ditinggal orang terkasih, tetapi terus tersenyum ramah sambil meneruskan kehidupan yang kejam ini. Untungnya, tetangga sekitar dalam pandangan sayapun baik terhadap beliau. si ibu bersama ibu-ibu yang lain di kompleks saya tinggal sering berkumpul, bercengkerama, bertukar cerita sambil mengerjakan pekerjaan mereka meraih rupiah demi rupiah untuk meneruskan kehidupan.

kadang sebagai mahasiswa, kita sebenarnya tidak perlu untuk membuat program pengabdian masyarakat yang muluk-muluk untuk golongan masyarakat ini. yang seharusnya kita lakukan adalah membaur dengan mereka, mengambil bagian dalam kesedihan dan kegembiraan dalam masyarakat sekitar kita. Hal tersebut lebih disukai masyarakat dibandingkan jika sebagai mahasiswa kita datang untuk presentasi program pengabdian mayarakat ke ketua RT, lalu eksekusi dan kemudian habis.

suatu hikmah yang bisa dipetik, kita seharusnya jangan terlalu larut dalam kesedihan. sekalipun masih bersedih atau berduka, kita seharusnya tetap menegakkan kepala sambil menatap hari esok. kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini. Orang yang bijaksana dalam menilai hiduplah yang mampu bertahan dari ujian dan cobaan. Mari, jadilah bijaksana!

Wednesday, July 18, 2012

101 Fakta tentang mahasiswa ITB (saduran)

Iseng baca notes dari temen tentang fakta mahasiswa ITB yang mungkin paling unik dan tidak dimiliki kampus2 lain. Setelah saya baca notes ini, saya pribadi merasa masih banyak fakta yang belum disebutkan. Tapi tak apalah, mahasiswa Ganesha memang terlalu banyak keunikan untuk disebutin satu2.hehehe
Selamat membaca dan menafsirkan apa itu “mahasiswa ITB”……=)
NB: yang dicetak tebal mempunyai arti pernah dialami, diyakini, dan diakui kebenarannya oleh saya sendiri.hehhe

1. Mahasiswa ITB itu merasa membuat laporan praktikum adalah hal yang lebih menyebalkan daripada ujian
2. Mahasiswa ITB itu sebelum masuk kuliah, sms teman dulu. Kalo ada kuis, masuk, kalo gak ada, ya gak masuk
3. Mahasiswa ITB itu kalo gak mandi gak ketauan
4. Mahasiswa ITB itu mandinya 2 hari sekali. Yang mandinya sehari 2 kalii, berarti gak gaul.
5. Mahasiswa ITB itu kalo mau UTS jadi agresif
6. Mahasiswa ITB itu tidak takut dengan orang gila bernama Dona yang berkeliaran di kampus
7. Mahasiswa ITB itu sukanya cewe-cewe dari SITH ama SF
8. Mahasiswa ITB itu sukanya cowo-cowo dari FTTM ama FTMD (definitely NOT..)
9. Mahasiswa ITB itu sukanya maen game online. Yang gak maen, berarti gak gaul
10. Mahasiswa ITB itu paling suka arak-arakan pas wisudaan

11. Mahasiswa ITB itu ngerasa keren kalo pake jaket himpunan jurusan masing-masing
12. Mahasiswa ITB itu kalo ulang tahun mesti diceburin ke intel (itu dulu, sekarang tidak)
13. Mahasiswa ITB itu gak suka sama salah satu unit rektorat bernama K3L
14. Mahasiswa ITB itu kalo kuliah telat berarti baru bangun
15. Mahasiswa ITB itu kalo ngekos suka bawa kendaraan ke kampus yang bikin macet (gw kere -____-)
16. Mahasiswa ITB yang gak ngekos biasanya anak baik-baik
17. Mahasiswa ITB yang pulang malem-malem berarti baru beres praktikum, main di Sunken Court, atau beres rapat di himpunan/unit (kadang sampai subuh)
18. Mahasiswa ITB itu ampir gak pernah pake jaket almamater. 
19. Mahasiswa ITB itu gak bisa bawa motor ato mobil ke dalem kampus. Yang bisa berarti gahul! (kalo ngga ortunya dosen)

20. Mahasiswa ITB itu “biasanya” nyontek kalo soal ujiannya PG
21. Mahasiswa ITB itu kalo UTS, belajarnya H-2 atau H-1. Yang belajar kurang dari itu, berarti DEWA
22. Mahasiswa ITB itu kalo pagi-pagi banyak antri di tempat fotokopian atau tempat ngeprint
23. Mahasiswa ITB yang baru naik tingkat 2 pasti nanya “kapan pelantikannya?”
24. Mahasiswa ITB yang non-himp pasti aktif di unit (kalo gak juga berarti Study Oriented banget)
25. Mahasiswa ITB cuma pake kemeja rapi saat seminar tugas akhir
26. Mahasiswa ITB suka manjangin rambut dan saat menjelang seminar tugas akhir mulai dicukur habis
27. Mahasiswa ITB itu yang naik angkot Kalapa-Dago mayoritas berenti di BIP (buat hepi-hepi kali)
28. Mahasiswa ITB itu yang lulus nyerempet2 akhir pasti aktivis kampus
29. Mahasiswa ITB itu yang aktif banget di unit biasanya jarang kuliah
30. Mahasiswa ITB yang make laptop dipojokan biasanya lagi maen game online
31. Mahasiswa ITB itu pahanya kuat-kuat karena sering naik turun tangga 
32. Mahasiswa ITB itu kalo hari Jumat suka pilih-pilih Masjid
33. Mahasiswa ITB itu kalo hari Jumat sore suka cepet-cepet pulang (buat balik ke kampung)
34. Mahasiswa ITB itu kalo hari Jumat suka shopping di depan Masjid Salman
35. Mahasiswa ITB itu agak jorok sama sekre himpunannya masing-masing
36. Mahasiswa ITB itu paling sibuk hari Minggu malem
37. Mahasiswa ITB itu suka pilih-pilih SKS biar dapet tambahan hari libur
38. Mahasiswa ITB itu sering stress
39. Mahasiswa ITB itu paling sensitif ditanya IP semester kemarin
40. Mahasiswa ITB itu IPnya suka jatoh di tingkat 3
41. Mahasiswa ITB itu merasa jam bergerak lebih lambat saat sedang kuliah
42. Mahasiswa ITB itu merasa kalo hari Sabtu sangat cepat berlalu
43. Mahasiswa ITB itu paling seneng nge-bully dan ngeceng junior
44. Mahasiswa ITB itu suka ngegosipin dosen
45. Mahasiswa ITB itu paling semangat kalo lagi kompetisi olahraga (sampe kadang bolos kuliah)
46. Mahasiswa ITB itu paling seneng nge-tweet
47. Mahasiswa ITB yang sudah berpenghasilan biasanya lulusnya lama
48. Mahasiswa ITB itu seneng bikin event besar di kampus
49. Mahasiswa ITB itu paling anti menjawab pertanyaan “Malem udah belajar?”
50. Mahasiswa ITB di atas tingkat 2 selalu merasa ingin kembali ke TPB 
51. Mahasiswa ITB paling males kuliah di gedung dengan nomor 913* atau 923*
52. Mahasiswa ITB suka menginjak rumput (karena rumput ada untuk diinjak)
53. Mahasiswa ITB paling pintar menggunakan rumus Pythagoras (untuk jarak terdekat ke gedung kuliah)
54. Mahasiswa ITB yang berprestasi biasanya ditempel poster raksasa di gerbang ganesha (biar eksis)
55. Mahasiswa ITB suka “curhat” di mading
56. Mahasiswa ITB biasanya menghindar dengan mas-mas dan mbak-mbak greenpeace di gerbang depan
57. Mahasiswa ITB itu suka ngerumpi setiap habis kelas besar
58. Mahasiswa ITB itu kadang merasa bosan dengan papan tulis kapur
59. Mahasiswa ITB itu jarang demo
60. Mahasiswa ITB gak ada yang kuliah di gedung ITB yang besar di jalan Taman Sari
61. Mahasiswa ITB itu gak ada yang berani nurunin boneka beruang di pohon jalan ganesha (udah diturunin gara-gara pasar seni)
62. Mahasiswa ITB itu terbiasa dengan aroma tai kuda
63. Mahasiswa ITB itu sering mendengar teriakan monyet dari kebun binatang sebelah
64. Mahasiswa ITB itu kalo buka laptop di kelas biasanya buka facebook
65. Mahasiswa ITB itu kalo aktif di organisasi, biasanya pendiam di kelas (berlaku sebaliknya)
66. Mahasiswa ITB itu suka galau
67. Mahasiswa ITB itu suka nge-geng
68. Mahasiswa ITB itu suka jualan roti bernama Ciwawa (ga suka jualan, cuma suka makannya doang :P)
69. Mahasiswa ITB itu hampir tidak pernah mengunjungi perpustakaan pusat setelah tingkat 2 (gue selama di ITB ga pernah pinjam buku dari perpus)
70. Mahasiswa ITB yang tingkat 4 kadang menghilang dari peredaran
71. Mahasiswa ITB itu suka rapat
72. Mahasiswa ITB yang pake jaket almamater pasti ditanya, “abis ada acara apa?” atau “Anak KM nih ye!”
73. Mahasiswa ITB itu rajin bikin group di facebook
74. Mahasiswa ITB itu suka beli game bajakan yang menyebar merata di depan kampus dan belakang kampus
75. Mahasiswa ITB itu lebih rajin mendonlot film di kampus daripada belajar
76. Mahasiswa ITB itu “membenci” hewan bernama cumi
77. Mahasiswa ITB yang pake baju kegedean biasanya anak kuper
78. Mahasiswa ITB yang pake baju kekecilan biasanya anak gahul
79. Mahasiswa ITB itu kalau hari Senin suka antri di loket beasiswa
80. Mahasiswa ITB itu rajin nyari beasiswa
81. Mahasiswa ITB itu kalau nilainya jelek suka nyalahin dosennya
82. Mahasiswa ITB itu merasa kalau beli buku text asli, berarti orang kaya (ga juga, gue buktinya, buku teks TPB asli semua kok :P)
83. Mahasiswa ITB itu biasanya hampir tidak pernah nyuci jaket himpunan (gue rajin, makanya warna jahim gw mentereng :P)
84. Mahasiswa ITB itu suka hedon setelah dapat uang kiriman (ke lappo gundaling lah)
85. Mahasiswa ITB itu punya cara pacaran yang aneh
86. Mahasiswa ITB itu biasanya bisa membedakan mana yang anak ITB dan mana yang bukan 
87. Mahasiswa ITB itu merasa pake sendal ke kampus adalah hal yang lumrah
88. Mahasiswa ITB itu selalu PDKT sama dosen di awal tingkat 4
89. Mahasiswa ITB itu selalu bahagia kalau sudah kuliah lapangan
90. Mahasiswa ITB itu menyelesaikan tugas pada saat H-1 jam atau H-10 menit
91. Mahasiswa ITB itu selalu mengerjakan tugas sehari sebelum hari-H, seberapa lamapun waktu yang diberikan untuk mengerjakannya
92. Mahasiswa ITB itu selalu datang ke tempat fotokopian sehari sebelum ujian
93. Mahasiswa ITB itu suka berantem sama rektorat
94. Mahasiswa ITB yang Study Oriented jarang dapet nilai A di mata kuliah olah raga 
95. Mahasiswa ITB suka melabil di tingkat 3 antara jadi SO atau Aktivis
96. Mahasiswa ITB punya KTM dengan foto yang dapat dipastikan jelek
97. Mahasiswa ITB itu merasa nganterin cewe pulang malem-malem adalah hal lumrah (yang sulit dihindari :(   )
98. Mahasiswa ITB itu kalau nginep di kosan temen biasanya belajar 10 % sisanya ngerumpi dan main
99. Mahasiswa ITB itu paling benci kuliah jam 7 pagi
100. Mahasiswa ITB itu sebenarnya manusia biasa (juga mahasiswa biasa)
101. Mahasiswa ITB itu kalau baca notes di facebook, biasanya selalu komen :) 

Klik disini untuk melihat sumber saduran 

Tuesday, July 17, 2012

Jupe dan Gaston : sebuah sudut pandang

Anda yang berdomisili di Indonesia, terlebih anda yang suka menonton infotainment ditelevisi pasti tidak asing dengan kisah kasih Jupe dan Gaston, yaitu sebuah kisah kasih antara seorang selebritis dan seorang pesebakbola, dimana kisah kasih mereka tidak bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan karena hubungan jupe dan gaston ternyata tidak direstui oleh ibu dari jupe. Terlepas dari alasan sang ibu menolak gaston menjadi menantunya, ada satu hal dari kisah mereka yang ingin saya angkat. Sebenarnya masalah ini terlihat sepele dan mungkin luput dari perhatian kita, tetapi mari kita simak bersama.

Jupe adalah seorang artis. Ia lahir pada tahun 1980. Berhubung ia sekarang sudah berumur 32 tahun, maka sudah pantas baginya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Gaston pun demikian. Ia lahir pada tahun 1985 dan ia pun sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.

Ada suatu hal yang menarik. Jupe dan Gaston tidak menikah karena tidak direstui ibu jupe. Pertanyaannya adalah, apakah ibu jupe tidak memikirkan kebahagiaan anaknya? bukankah jupe sudah dewasa dan bisa menentukan hidupnya sendiri? terlebih lagi dia adalah seorang selebritis. bukankah jupe bebas melakukan apa yang dia lakukan? termasuk didalamnya adalah menikah dengan siapapun yang dia mau?

sangat menarik untuk diperhatikan bagaimana ada kehidupan seorang selebritis indonesia yang masih dipengaruhi orang tua, mengingat begitu bebasnya kehidupan para selebritis, kawin-cerai, pacaran putus-nyambung, teman tapi mesra, dunia gemerlap, dll. saya melihat kejadian ini layaknya orang awam yang tidak tahu-menahu mengapa jupe tidak direstui ibunya menikah dengan gaston, atau apa alasan jupe mendengarkan perkataan ibunya. Ditengah pamor jupe sebagai selebritis yang kerap tampil seksi sehingga memicu kontroversi, ternyata dia tidak menikah dengan gaston karena faktor ibu, hal yang sungguh terlihat jarang diantara selebritis yang seera dengan jupe.

Terlepas dari semua sebab-akibat dari kisah kasih jupe dan gaston, kita sebenarnya perlu berpikir obyektif. zaman ini kita banyak menemukan bahwa sulit sekali seorang anak mendengarkan perkataan orang tua, apalagi jika orang tua tersebut sudah lanjut usia sementara anaknya sedang berada dipuncak karir, apalagi dengan tingkat akademik yang tinggi. Terkadang anak-anak menggunakan alasan bahwa pemikiran orang tua sudah kuno atau sudah tidak sesuai dengan apa yang ada dimasa sekarang sehingga nasihat orang tua hanya menjadi angin lalu ditelinga anak-anak. Lihat, selebritis seperti jupe lebih "memilih" mendengarkan ibunya dibanding menuruti ego pribadinya sendiri untuk menikah dengan gaston. lalu, bagaimana dengan anak muda zaman sekarang?

Berapa banyak anak muda selevel SMA yang masih bisa mendengarkan nasihat/perkataan orang tua? bagaimana dengan mereka yang sudah kuliah?

Memang benar adanya bahwa terkadang orang tua masih memegang prinsip-prinsip lama yang diterimanya, entah dari orang tuanya ataupun dari pengalaman hidupnya. Namun, bukankah nilai kehidupan harus tetap terpelihara? bukankah nilai kehidupan harus diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi ditengah era posmodernisme ini, dimana semua kebenaran menjadi relatif? Bukankah pewarisan nilai yang efektif merupakan salah satu pilar yang menopang jembatan guna mencapai tujuan pendidikan?

tidak ada salahnya mendengarkan nasihat orang tua, walaun nasihatnya seperti terdengar kuno. pengalaman hidup mereka adalah pelajaran yang sangat berharga yang dapat diperoleh generasi muda zaman ini karena hal tersebut belum tentu terulang. kita bisa menyebut bahwa apa yang dinasihatkan orang tua merupakan usaha mempertahankan idealisme atau mempertahankan nilai yang sejak lama ada supaya tidak hilang. baiknya kita menerima nasihat itu, setidaknya untuk menambah khasanah berpikir kita, atau jika lebih, bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita akan sesuatu.

mari kita belajar untuk lebih mendengarkan, bukan didengarkan. hendaknya kita tidk cepat untuk berbicara, tetapi dengan penuh kesabaran dan kerendahan hati mau mendengarkan, siapapun dia.