Saturday, April 11, 2015

Pepaya dalam gerobak

Suatu pagi, bangunlah seorang pemuda berumur perak dari tidurnya. Keluarlah ia dari kamarnya untuk mencari makanan untuk sarapannya. Pergilah ia ke warung langganannya dan makanlah ia. Setelah itu, ia pergi mencari buah untuk pencuci mulut. Maka bertemulah ia dengan seorang pria paruh baya sedang mendorong gerobak yang berisi berbagai macam buah. Didatanginyalah gerobak itu sambil melihat-lihat isinya.

Diantara buah-buahan di gerobak itu, pepayalah yang sangat menarik hatinya. Warnanya oranye kemerahan, terlihat menarik, dan tampak lezat. Dibelinya empat bungkus pepaya yang sudah dipotong kecil-kecil dan dibawanya pulang. Dimakanlah olehnya dua bungkus pepaya lalu mandi dan pergi. Ditinggalkannya dua bungkus pepaya untuk dimakan malam harinya.

Malam hari, pulanglah ia. Dilihatnya dua bungkus pepaya yang masih terlihat menarik itu. Diambilnya sebungkus dan akan dimakannya. Namun, sebelum potongan pertama masuk ke mulutnya, curigalah ia. Diciumnya seluruh pepaya dalam bungkusan itu dan terkejutlah ia. Aroma yang diciumnya bukan aroma buah, tetapi aroma pemanis makanan buatan. Curigalah ia bahwa pepaya itu telah dicampur dengan pemanis buatan sehingga dibuangnyalah kedua bungkus pepaya itu.

Esok harinya, dibelinyalah pepaya dari pasar yang masih utuh yang belum dikupas. Dikupasnyalah pepaya itu dan terkejutlah ia. Pepaya yang dikupasnya begitu manis, tetapi berwarna lebih pucat dibanding pepaya yang ia beli kemarin. Curigalah ia bahwa pepaya yang dibelinya kemarin tidak hanya diberikan pemanis buatan, tetapi juga pewarna, yang tidak diketahuinya apakah pewarna tersebut merupakan pewarna makanan atau pewarna bahan lain.

Sejak saat itu, ia makin berhati-hati ketika membeli buah. Tidak mau dibelinya lagi buah yang sudah dikupas, tetapi dibelinya buah yang masih utuh. Ia sadar bahwa pedagang buah pun dapat berlaku kotor dan licik supaya dagangannya laku. Ia pun menghimbau orang lain agar berhati-hati dalam membeli buah digerobak.

Pembajakan

Teknologi semakin lama semakin maju, termasuk teknologi audio visual. Kemajuan ini juga mengakibatkan dampak negatif, yaitu maraknya pembajakan, baik film maupun musik. Hal ini tidak bisa dihindari mengingat bahwa sekarang ini mudah sekali bagi seseorang untuk mengakses informasi.

Hal yang menarik adalah ketika film-film layar lebar asal holliwood justru meraup untung jutaan dolar diseluruh dunia ditengah maraknya pembajakan. Dalam pengamatan saya, mungkin hal ini disebabkan karena orang-orang yang menonton film tersebut lebih suka menonton di bioskop dibanding menonton file bajakan dilaptop ataupun membeli kepingan DVD bajakan. Rasanya tidak seru dan tidak hidup kalau film tidak ditonton dibioskop dengan layar lebar, bahkan dengan kualitas gambar 3D yang dilengkapi dengan kualitas audio yang baik pula.

Bagaimana dengan musik? Dalam pengamatan sepintas saya, band-band atau musisi asal negeri paman sam rutin mengadakan tur, entah itu dalam lingkup amerika serikat saja atau merambah berbagai benua hingga eropa dan asia. Berbagai konser band besar begitu tumpah ruah oleh penonton ditengah pembajakan yang marak sekarang. Menurut saya mungkin hal ini disebabkan oleh hal yang sama seperti yang terjadi pada penikmat film, yaitu rasanya kurang seru kalau tidak menikmati penampilan langsung musisi pujaan dipanggung.

Intinya mungkin sama. Sebanyak apapun file bajakan yang kita punya, kita tetap membutuhkan sesuatu yang sangat penting dalam menikmati suatu karya seni, yaitu suasana. Kemajuan teknologi bisa memudahkan kita mendapatkan berbagai informasi di internet, tetapi tempat, waktu, dan situasi tidak bisa diberikan oleh internet. Kita perlu menyaksikan langsung suatu karya seni dalam suatu keadaan nyata, dimana kita merasa seperti berinteraksi dengan karya seni itu, seperti yang terjadi di bioskop, atau bahkan kita benar-benar berinteraksi dengan idola kita ketika berada di konser. Mungkin diwaktu-waktu mendatang kita yang ada di Indonesia akan sering didatangi musisi dari luar negeri dan sekalipun kita punya banyak karya mereka yang kita bajak dari internet, kita tetap akan mengumpulkan uang untuk menonton secara langsung penampilan idola kita.

Monday, April 6, 2015

Ada apa gerangan?

Pertanyaan pertama selalu "sudah lulus belum?",

Kemudian, dipercakapan berikutnya,

Pertanyaan pertama, "sudah wisuda belum?"

Kemudian dipercakapan berikutnya,

Pertanyaan pertama, "masih dibandung?"

Polanya adalah, makin lama makin halus.

"Masih dibandung?" Adalah pertanyaan yang sama esensinya dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya karena begitu dijawab "ya", tandanya belum beres kuliah. Intinya sama saja, ingin menanyakan apakah saya sudah selesai studi S-1 atau belum kemudian nihil tanggapan lagi. Apa pentingnya informasi selesai atau tidaknya studi saya baginya? Apakah ia peduli? Saya pikir tidak. 

28 maret 2015, saya terima ijazah itu dengan menggunakan jas dan toga lengkap, disambut dipintu gerbang oleh pasukan merah yang siap mengarak. Hadiah yang saya terima pun tak kalah banyak, mulai dari bunga, boneka, kue, coklat, batu, dll. Bunga itu saking banyaknya dapat ditampung di ember, dan jika saya membawanya mungkin saya akan terlihat seperti penjual bunga di pinggir jalan yang menjual dagangannya dengan ember. Lalu, dimana dia? Mungkin dia tidak ada disana karena keterbatasan ruang dan waktu. Biarlah. Itu haknya.

Sudah beberapa hari berlalu sejak hari itu. Mungkin hingar bingarnya sudah berakhir, tetapi penasaran tak kunjung hilang. Sudah selesai. Lalu, adakah ucapan selamat darinya? Sedikitpun tidak. Lalu, untuk apa pertanyaan "sudah lulus?", "sudah wisuda?", serta "masih dibandung?" diwaktu-waktu sebelumnya? Apa artinya lulus baginya? Apa artinya wisuda baginya? Apa artinya keberadaan saya dibandung baginya kalau hal itu hanya sekedar saja? Apa artinya semua itu jika hanya jadi pemanis percakapan walau sebenarnya tawar dan tak berguna?

Jikalau memang waktunya tiba, kata yang tak kunjung keluar untuk menjelaskan letak kesalahan dan yang berakhir dengan kepergian tanpa kata, lalu apa artinya semua kata rohani dan semua dukungan yang katanya dibawakan dalam doa itu? Ya! Itu hanyalah sebuah formalitas dan pelarian dari seseorang yang sedang putus asa dengan keadaannya yang tak seindah harapan. Ia yang dicampakkan kemudian mencampakkan.

Lalu, mengapa harus saya? Ada apa gerangan?

Wednesday, December 3, 2014

catatan perjalanan ke gunung pangrango 3019 mdpl


pendakian penutupan, begitulah kira-kira. pangrango adalah gunung terakhir yang saya daki untuk tahun 2014 dengan tim kali ini beranggotakan hadohoan, vart madona, yohanes halim, dan masdiana damanik.




kami mendaki bulan november 2014 dimana hujan sudah mulai sering turun. ketika kami berangkat, ditengah jalan kami bertemu dengan rombongan yang baru saja turun setelah sehari sebelumnya menunda turun gunung karena badai di surya kencana. telaga biru saat itu memang terisi penuh oleh air hingga meluber ke selokan dan warnanya agak keruh. saat itu memang air sangat banyak sehingga kami tidak kesulitan air. kami memulai pendakian pukul 08.30 WIB dan sampai di kandang badak kira-kira pukul 16.30 WIB. sekalipun frekuensi hujan tinggi, kami sangat beruntung dalam perjalanan kali ini. setelah kami tiba di kandang badak, mendirikan tenda dan beristirahat, hujan turun cukup lebat. kami akhirnya memasak. pisau yang baru saya beli (pemakaian pertama) ternyata tak sengaja sedikit menggores tangan dona hehe (maapkan pisauku yang nakal).

keesokan harinya, karena subuh-subuh ternyata hujan, kami yang sudah bangun pun harus menunda summit. sekitar pukul 06.30 kami makan dan siap-siap. kami berangkat kira-kira pukul 07.30 WIB dan sampai di puncak pangrango kira-kira jam 09.30 WIB. setelah berfoto-foto, kami turun ke kandang badak, tetapi doan sudah ngebut duluan karena dia mau summit ke gede ASAP. akhirnya saya, dona, dan masdam turun bertiga (yohanes tidak ikut summit) dibelakang doan. setelah sampai di kandang badak, kami makan, karena segala sesuatu telah tersedia (yohanes memasak semuanya hehe). disaat kami sedang asik makan, doan kembali lagi ke kandang badak sehabis summit gunung gede (that guy is nut hahaha).

ada kekhawatiran tersendiri karena kami turun disaat sudah gelap, sementara cibodas masih jauh. Namun, kami beruntung lagi. hujan tidak turun sejak kami meninggalkan kandang badak hingga kami tiba di cibodas.  Akhirnya kami menginap semalam dibasecamp lalu esoknya pulang ke bandung.

semoga Tuhan dan semesta bersama para pemberani. salam lestari

Monday, December 1, 2014

catatan perjalanan pendakian gunung guntur 2249 mdpl via desa citiis

lama tidak menulis catper setelah sekian lama absen menggunung hehehe halo semua, kali ini saya mau sharing pengalaman mendaki guntur, dimana saya mendaki gunung guntur sebanyak dua kali. catper ini adalah catper untuk perjalanan yang pertama.



sebenarnya ini adalah semacam pendakian ulang oleh saya dan doan karena pertama kali kami mencoba mendaki guntur, kami nyasar hahaha akhirnya kami pulang dengan kekecewaan hehe tapi tak apalah. ternyata terbayar juga dengan samudera awan gunung guntur yang istimewa disaat sunrise.

gunung guntur terletak di garut, jawa barat. untuk menjangkau desa terdekat, yakni desa citiis dari bandung bisa dilakukan dengan naik motor ataupun dengan naik kendaraan umum. jika beruntung, kita bisa menawar elf tujuan garut untuk memutar ke desa terdekat (desa citiis). perjalanan naik kendaraan umum adalah tahun 2015 dan tim kami membayar Rp 30.000 per orang untuk sampai ke dekat basecamp.

kami sedikit kurang beruntung karena kami tidak dapat menumpang pada truk pasir sehingga dari basecamp kami berjalan kaki menyusuri jalan tambang sampai tiba didekat jalan setapak naik. kami tidak melewati air terjun, tetapi kami melewati jalur lurus pendakian gunung guntur dari kaki gunung hingga ke puncak. kami memulai perjalanan pukul 18.30 WIB dan sampai dipuncak 2 (titik GPS) sekitar pukul 02.00 WIB. trek gunung guntur termasuk sulit, melelahkan, dan terjal. tidak ada bonus dalam jalur pendakian guntur. Jadi, kita akan naik terus ketika mendaki gunung ini. untuk teman-teman ketahui, puncak guntur itu setinggi 2249 mdpl, sedangkan kita akan memulai mendakian dari desa citiis yang kurang lebih berada diketinggian 800an mdpl. jadi dari sisi jarak, mendaki gunung guntur termasuk jauh dan terjal. 

well, diantara paguci garut (papandayan, guntur, cikuray), menurut saya mendaki guntur jauh lebih melelahkan dan menguras tenaga dibanding papandayan dan cikuray. Namun, semua kelelahan itu terbayar dengan pemandangan sunrise yang menakjubkan. samudera awan kala itu sangatlah istimewa karena sangat tebal, serasa kasur empuk berada dibawah sana.

setelah muncak, kami turun dulu ke air terjun untuk menikmati aliran air sebelum kembali ke bandung. puas rasanya akhirnya bisa mendaki guntur setelah gagal di percobaan pertama =))